Cornelia dan Api di Dadanya

“Ya, Bu. Choki pasti kangen dengan ikan pepes bikinan Lia. Dia tidak lagi mengganggu tanaman hias Ayah, kan, Bu?”

“Tidak, Lia. Sekarang Choki sudah pintar. Tadi pagi saja ikut membaca koran bareng Ayah. Kebetulan beritanya tentang kucing yang melahirkan di pinggir jalan. Lalu punya 3 anak. Putih-putih dan lucu-lucu. Eh, si Choki malah mengendusendus foto 3 kucing manis itu.”

“Lucu, ya. Tandanya Choki sudah agak besar, Bu. Tidak terlalu manja lagi dan sudah punya perasaan.”

Baca juga: Sulur – Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sultra, 15 Agustus 2018)

Begitulah Cornelia. Meski tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak tetapi semangat hidupnya sama sekali belum padam. Seakan-akan api di dadanya tidak pernah berhenti untuk berkobar. Tidak hanya soal Choki yang bikin dia semangat. Kadang suka menggoda ibunya dengan menanyakan apakah kumis ayahnya sudah tumbuh atau belum. Soalnya ia terlalu sering memergoki ayahnya mencukur kumis setiap minggu. Padahal dia suka sekali membelai bulu-bulu hitam dan pendek itu ketika berada dalam pangkuan si ayah.

Ketika Cornelia sibuk bercerita sendiri di ruang inap, ibunya mendengarkan dengan saksama. Ketika dahi Cornelia panas, wanita itu mencelupkan kain dan mengompresnya. Ia tidak pernah menitikkan air mata ketika sakit Cornelia kambuh, disuntik, atau saat pergelangan tangan gadis itu dilubangi demi penerapan infus baru. Baginya, air mata hanya bisa membuat hati Cornelia semakin susah.

***

Di suatu malam menjelang ulang tahun, listrik di daerah tempat Cornelia dirawat mendapat giliran pemadaman. Setiap ruangan di dalam rumah sakit sangat gelap. Saat itu, Cornelia yang tertidur pun bangun. Ia menangis karena tidak mendapati ibunya di ruangan itu. Yang ada hanya suara ribut-ribut di luar ruangan.

Baca juga: Amnesti – Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 16 September 2018)

“Bu!”

“Ibu!”

“Ibu mana?!”

“Bu?!!”

Cornelia terus memanggil. Tapi ibunya tak kunjung menyahut. Rumah sakit itu berada di pedesaan yang memang kerap mendapat jatah mati listrik. Bahkan pernah sampai berlangsung seharian penuh. Di sana tidak ada genset sama sekali. Suara teriakannya tersamarkan oleh teriakan para pasien lain di ruang lain.

Arsip Cerpen di Indonesia