Ketika air matanya sudah berurai sedemikian banyaknya, sebatang lilin menyala memasuki ruang inap Cornelia. Cahaya lilin yang bergoyang itu membuat Cornelia lega. Itu ibunya yang dicari-cari. Karena ketakutan, ia pun meminta ibunya agar memeluk erat-erat dan bilang “jangan pergi” berkali-kali.
“Tadi Ibu beli lilin dulu di warung, Lia. Maafkan Ibu tidak bilang-bilang.”
“Kapan Ayah menjenguk Lia, Bu? Besok kan hari ulang tahun Lia.”
“Sabar, Lia. Ayah lagi sibuk kerja di kantor dan mengurus rumah.”
“Masa tiga minggu baru sekali ke sini, Bu? Ayah macam apa?”
Baca juga: Lelaki Pengurus Orang Mati – Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Republika, 16 September 2018)
“Eh? Tidak boleh begitu. Kalau Ayah sering kemari. Nanti siapa yang jagain rumah dan Choki?”
Cornelia terdiam. Kepalanya memandangi sudut-sudut ruangan yang masih gelap, meskipun sudah ada nyala api dari lilin putih. Lilin itu ditaruh dekat pembaringan Cornelia. Pandangannya melayang ke rumah dan bertanya-tanya. Bagaimana dengan Choki kalau di rumah mati listrik juga? Tapi dia menarik kembali bayangan di pikirannya. Choki itu kucing pintar. Pasti tidak menjerit-jerit seperti aku. Dia pasti masih menungguku pulang, batin Cornelia.
“Bu, besok Lia boleh pulang, kan? Kata Ibu. Itu hadiah Lia di ulang tahun besok.”
“Iya, Lia. Besok kamu boleh pulang.”
Baca juga: Burhan – Cerpen Achmad Agung Prayoga (Suara Merdeka, 16 September 2018)
“Omong-omong, Bu. Kenapa Lia tidak boleh makan seharian ini? Badan Lia lemas sekali. Kepala Lia pusing. Berat. Seperti ada yang menaruh kepala besaaar sekali di atas kepala. Tadi pas mati listrik, Lia ketakutan.”
“Kata dokter, syarat untuk pulang, Lia harus puasa dulu. Biar besok bisa pulang.”
“Terima kasih hadiah ulang tahunnya, Bu.”
“Tetap tersenyum, Lia.” “Sini, Bu. Lia mau meluk.”
Wanita itu merendahkan tubuhnya agar bisa dipeluk Cornelia yang belum bisa bangkit dan masih berbaring.
***