Cornelia dan Api di Dadanya

Kondisi Cornelia semakin memburuk. Warna kulitnya pucat. Tidak hanya wajah, tetapi juga seluruh permukaan kulit juga pucat seperti baru diangkat dari freezer setelah membeku selama berjam-jam. Ia masih tidur dan tidak menyadari sudah berada di ruangan khusus. Delapan ahli medis itu mengenakan masker dan sarung tangan khusus. Ibunya tidak diperbolehkan masuk ke ruangan dan harus menunggu hingga proses selesai.

Pagi-pagi sekali, sebelum Cornelia dibawa ke ruang operasi, ibunya bercakap-cakap dengan dokter.

“Dok, apa tidak bisa ditunda operasinya? Hari ini Lia ulang tahun.”

Baca juga: Pencegahan Bunuh Diri – Cerpen Jaroslav Hasek (Jawa Pos, 16 September 2018)

Dokter itu menggeleng, “Dari keterangan Ibu, gejalanya sangat jelas. Warna kulit Lia seluruhnya pucat. Sering buang air dan berwarna hitam. Sering muntah darah ketika disuapi makanan. Detak jantung tidak teratur. Dan merasa lelah sepanjang waktu. Kalau tidak segera ditangani, kemungkinan sembuh kecil, Bu.”

Di kursi tunggu, ibunya menggigit-gigit ibu jari sampai memucat. Dari arah pintu rumah sakit, masuk ayah Cornelia sambil membopong Choki. Tidak hanya itu. Di dalam mobil yang diparkir ke bagian sisi kanan rumah sakit, sudah ada hadiah ulang tahun meriah dan besar-besar. Tidak terlalu jelas apa isinya. Dari luar kaca mobil, sepintas terlihat kado besar dalam jumlah banyak mengisi ruang kemudi, ruang penumpang, dan ruang bagasi.

“Prosesnya belum selesai, Bu?” lelaki itu duduk di sebelah kanan istrinya. Choki dibiarkan mondar-mandir di lantai. Kadang mengendusendus pintu ruang operasi yang tertutup dan menarik perhatian para pembesuk.

Baca juga: Mematikan Lagarise – Cerpen Caroline Wong (Media Indonesia, 16 September 2018)

“Belum, Yah. Kita doakan saja Lia baik-baik saja.”

“Di mobil sudah ada hadiah khusus untuk Lia, Bu.”

“Saat ini, doamu lebih penting, Yah.”

Di bawah pengaruh obat bius, Cornelia menatap langit-langit. Ia sama sekali tidak bisa menggerakkan setiap inci dari tubuhnya. Bahkan untuk berkedip pun tidak mampu. Hanya air matanya yang perlahanlahan bergulir dan menetes masuk ke telinga.

Mata Cornelia menangkap sesuatu yang muncul dari celah atap plafon. Sosok itu berwarna putih. Mirip ayahnya ketika memakai baju dinas. Semakin turun dalam keadaan melayang, semakin jelas wajah sosok itu yang benar-benar menyerupai ayahnya. Ia ingin tersenyum, tetapi tidak bisa. Tapi rasa kebahagiaannya tidak bisa dibendung lagi. Terlebih lagi ketika sosok itu menggendong Choki dan memanggil-manggil “Lia” selama 30 kali.

Arsip Cerpen di Indonesia