Mayat, mayat, ada mayat mengapung… mayat tidur di jalanan. Orang-orang lapar jadi mayat, anjing menggigit manusia, kucing berbusa, anak kurus curi ayam, bayi dijual. Mayat, mayat….
Namun, seperti baik dan buruk yang selalu ada, kejadian di tempat ini juga demikian. Banyak mayat tergeletak tak mesti menyebabkan keburukan. Baiknya adalah setiap orang-orang kelaparan mendadak menjadi manusia yang paling baik. Persaudaraan terjalin karena mereka merasakan hal yang sama. Meskipun miskin dan sering lapar, mereka tak pernah lupa saling berbagi satu sama lain. Bukan apa, karena tak akan ada yang tahu mayat siapa besok yang bakal tergeletak. Barangkali mayatku, mayatmu, atau entah mayat siapa.
***
Baca juga: Azan untuk Bapak – Cerpen Haryo Pamungkas (Radar Banyuwangi, 19 Agustus 2018)
“Ada mayat lagi di selokan.”
“Manusia?”
“Entah, tapi besar. Barangkali sapi, atau babi.”
“Manusia juga bisa.”
“Tidak, tidak, yang ini besar. Orang-orang di sini kurus semua.”
“Tidak semua, kamu tahu ada mereka, kan?”
“Justru tidak mungkin kalau bagian dari mereka.”
“Lantas?”
Baca juga: Boneka Terakhir Seli – Cerpen Erwin Setia (Koran Tempo, 20-21 Oktober 2018)
“Entah, siapa peduli memang? Toh, itu cuma mayat.”
“Benar juga. Biarkan polisi yang cari tahu, kita cukup cari makan.”
“Nah…”
Ditemukan mayat lagi hari ini. Cukup besar juga, dan ternyata setelah polisi mendeham dan menggeleng, mereka memastikan bahwa itu mayat manusia, tergeletak begitu saja di selokan dengan mulut tersumpal karung beras.
“Mayat manusia ternyata…”
“Ya. Tapi besar juga ya.”
“Bahaya.”
“Ya.”