Kota mendadak sepi, semua orang berada di rumah duka itu. Tangis pecah, tangis yang dibuat-buat. Tapi tidak semua, mereka—orang-orang berperut besar—mungkin menangis sungguhan. Terutama keluarga yang ditinggalkan. Apalagi rumah duka ini sangat besar, halaman seluas lapangan sepak bola dan bertingkat empat. Barangkali mereka juga sedih karena rumah besar ini berkurang satu penghuninya. Dan tentu, akan terasa lebih sepi dan sunyi dari biasanya. Tapi baiknya, pejabat di kota ini sepakat akan memberi tunjangan besar kepada keluarga yang ditinggalkan, juga sebagai permohonan maaf karena sebuah kelalaian.
“Tolong, secepatnya ini diusut. Saya ingin tahu segera siapa yang membunuh suami saya,” kata istri mayat yang ditemukan hari ini itu. Ia berkata sambil berkacak pinggang di hadapan banyak pejabat lain. Tubuhnya juga gemuk dan perhiasan miliknya berkilauan memantulkan cahaya lampu.
“Tentu, Nyonya. Segera, masalah ini akan segera kami selesaikan, supaya tidak terulang. Selepas ini kami akan menanyai mereka, bila perlu akan kami gunakan ketegasan supaya ada yang mengaku. Nyonya tenang saja.”
Pimpinan pejabat di kota segera keluar dari ruang tamu menuju luar rumah. Di halaman, orang-orang kurus itu tetap saja berbaris dan pura-pura menangis. Pimpinan pejabat itu lantas berbicara lantang di hadapan mereka semua.
Baca juga: Ain Meni – Cerpen Felix K. Nesi (Koran Tempo, 28-29 Juli 2018)
“Siapa!? Siapa pembunuh itu!? Cepat mengaku! Kalau tidak, besok dan seterusnya tak akan ada lagi jatah beras! Biar semua mati kelaparan. Mayat harus dibayar mayat! Pemberontak harus mati atas nama hukum!”
Dalam barisan, orang-orang kurus itu saling pandang satu sama lain. Mereka masih saja diam meskipun atas nama hukum telah dilontarkan.
“Baik, kalau tidak ada yang mau mengaku, saya akan berikan ketegasan saya!” ujarnya geram.
Tiba-tiba ada satu orang kurus yang mengacungkan jari. Semua memandangnya, menunggu.