Kota Mayat

“Atas nama hukum juga, kita mesti bayar mayat dengan mayat, lapar dengan lapar, tidak boleh tidak! Inilah saatnya! Gunakan sisa lapar terakhir kita!” orang itu bersorak, diikuti oleh seluruh orang kurus yang sebelumnya berbaris rapi. Dari balik baju, mereka mengeluarkan berbagai macam senjata tajam: arit, golok, pisau dapur karatan, dan banyak lagi.

Baca juga: SANTA ZOMBIE (Atau: Perasaan dari yang Mati Disiksa) – Cerpen Beni Setia (Koran Tempo, 11-12 Agustus 2018)

Dan begitulah, hari ini akan menjadi penentu, apakah esok dan seterusnya mayat yang ditemukan adalah mayat besar atau mayat kecil, mayat kurus, atau mayat gemuk. Atau bisa jadi keduanya, dan nama Kota Mayat akan selalu melekat selamanya.

Mayat, mayat, ada mayat mengapung… mayat tidur di jalanan. Orang-orang lapar jadi mayat, anjing menggigit manusia, kucing berbusa, anak kurus curi ayam, bayi dijual. Mayat, mayat. Mayat dibayar mayat, orang-orang lapar marah menuntut kebiadaban mati jadi mayat….

 

Haryo Pamungkas, lahir di Jember, Jawa Timur. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember. Cerpennya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring.

Arsip Cerpen di Indonesia