Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda

Assalamu’alaikum, Pak Zuri,” ujar seseorang.

Lelaki paruh baya itu tak menjawab. Dia sedang duduk melamun di galengan sawah.

Assalamu’alaikum, Pak Zuri.”

Zuri, laki-laki paruh baya itu, lagi-lagi belum menyadari ada seseorang uluk salam.

Assalamu’alaikum, Pak Zuri,” ujar orang itu untuk kali ketiga.

Wa’alaikumsalam,” jawab Zuri terkejut. Ia baru menyadari, ternyata ada seseorang di hadapannya.

Baca juga: Sukarni – Cerpen Abu Rifai (Suara Merdeka, 26 November 2017)

Sejak tadi dia melamun, lantaran padi di sawah yang seharusnya siap panen dan montok-motok merunduk, dalam waktu semalam telah berubah memutih dan mendongak, diserang hama. Seakan dengan congkak padi itu berkata, “Aku kini tidak bisa kaupanen. Mau marah pada siapa kau, Petani? Rasakan kau!”

Samar-samar terdengar suara padi lain yang masih merunduk, “Sabarlah petani, teruslah memohon dan berserah diri. Ini kehendak-Nya.”

Namun suara itu sangat lirih. Suara padi congkak dan padi merunduk bersahut-sahutan.

Tanpa berkata-kata, ia melihat padi congkak hasil kerja kerasnya siang-malam dengan nelangsa. Kini, penglihatannya berganti gelap dan kosong. Seakan-akan hari yang terik mendadak diliputi mendung tebal. Suara-suara padi yang berisik membuat kepalanya terasa makin berat.

Baca juga: Resital Malka – Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 15 Juli 2018)

Njih, dalem. Pripun, Pak?” sahut Zuri.

Ia tak percaya di tengah sawah di bawah terik matahari berdiri seseorang yang gagah dengan jubah dan kopiah serbaputih, berwajah tenang dan teduh. Laki-laki berjubah putih itu tersenyum. Sungguh, senyum yang sangat sejuk. Senyum yang membuat Zuri sejenak terlupa pada padi yang berubah congkak. Dengan senyum tanpa sepatah kata pun, laki-laki berjubah putih itu memberikan sebuah amplop putih kepada Zuri.

Arsip Cerpen di Indonesia