Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda

Assalamu’alaikum,” ucap laki-laki berjubah putih sambil menempelkan telapak tangan ke pelipis dengan sedikit mengentak, khas-orang-orang Timur Tengah memberikan salam, sambil berlalu pergi.

Wa’alaikum salam,” jawab Zuri bingung.

Baca juga: Dajjal di Kampung Surga – Cerpen Mazka Hauzan (Suara Merdeka, 05 Agustus 2018)

Dia tidak sempat bertanya apa pun, ketika lelaki berjubah itu telah berlalu pergi. Zuri makin bingung. Di amplop itu tertulis namanya. Ia pun tidak ragu membuka. Seketika gelap dalam pandangan sirna berganti terang. Bibirnya bergetar membaca undangan dan tiket di dalam amplop. Dengan kaki telanjang yang kotor penuh lumpur, ia berlari pulang.

***

Tinggal beberapa langkah lagi pintu itu terbentang di depannya. Namun mendadak laki-laki paruh baya itu berhenti. Sekelebat muncul bayangan istri dan anaknya. Teringat malam tadi mereka tersenyum bersama di sebuah rumah reot. Ia gamang. Senyumnya mendadak hilang. Kakinya ingin segera melangkah lagi, tetapi hatinya ragu. Pandangannya kini mencari-cari sesuatu. Ia memejamkan mata sambil merapalkan doa.

Baca juga: Kota-kota di Ujung Jari – Cerpen NF Rifana (Suara Merdeka, 12 Agustus 2018)

“Tuhan, izinkan hamba menukar tiket ini untuk kebaikan anak-anak hamba,” lirih ucap laki-laki paruh baya, mungkin ribuan kali. Matanya terpejam, mulutnya terus meminta. Pengharapannya menimbulkan lelehan peluh terus yang mengalir, membasahi tubuh hingga dia kedinginan dan menggigil.

“Pulanglah. Teruslah meminta kepadaku.” Tiba-tiba terdengar suara tanpa rupa.

Sontak laki-laki paruh baya itu membuka mata. Kini, ia telah berdiri di tengah sawah dengan pakaian kebesaran; penuh lumpur. Peluh sudah membanjiri baju.

Siang ini matahari sangat terik. Ia menoleh ke sekeliling. Hampir selesai ia mencangkul sawah saudara yang digarapnya. “Tuhan, berikanlah kebaikan kepada keempat anakku,” ujar ia sambil terus mencangkul.

***

Arsip Cerpen di Indonesia