Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda

Laki-laki paruh baya itu kini sudah berusia senja. Buku rekening dan tawaran dari keempat anaknya mengingatkan dia pada kejadian 20 tahun lalu. Ia kembali termenung. Tadi pagi tetangganya datang dengan wajah sangat lesu. Pabrik tempatnya bekerja bangkrut, sehingga ditutup. Kini, ia jadi pengangguran dengan enam anak masih kecil-kecil.

Mereka minum kopi bersama dalam diam.

“Pak, besok Bapak dan Mamak kami antar mendaftar njih?” suara anak sulung laki-laki itu mengagetkan.

Baca juga: Percumbuan Topeng – Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 02 September 2018)

“Nak, boleh Bapak gunakan uang itu untuk keperluan lain? Ibu kalian pasti setuju.”

Sang istri tersenyum. Tak pernah sekali pun ia membantah sang suami. Keempat anak sang lelaki bersamaan mengangguk. Mereka paham maksud sang bapak.

***

Hari ini, 9 Dzulhijah. Fajar sebentar lagi menyingsing, menggantikan kegelapan malam. Laki-laki itu sudah berdiri di depan pintu rumah sang pengangguran baru beranak enam. Pintu rumah itu sangat usang. Namun itulah pintu yang dia pilih, pintu yang tak menjanjikan gelar. Tak seorang tetangga tahu, itulah pintu pilihan dia.

Baca juga: Tujuh Anjing Penjaga – Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 19 Agustus 2018)

Tangannya menadah. Seulas senyum muncul di bibir. Perasaan aneh luar biasa merasuki hati. Rasa puas dan lega tak terkira memenuhi jiwa. Hanya laki-laki itu yang bisa merasakan. Setiap kali fajar tiba, selalu ada wajah tersenyum karena dia datang mengetuk pintu reot rumah mereka.

Tangan keriputnya pelan mengetuk pintu. Namun cukup didengar pemilik telinga di balik pintu. Ketukannya dijawab dengan suara deritan pintu reot yang perlahan terbuka. Lelaki itu menantikan dengan debar luar biasa. Menunggu senyum dari pengangguran yang sedang membuka pintu.

Arsip Cerpen di Indonesia