Nazir tengah berdiri di depan kaca di kamarnya, dan memasang korset yang selalu ia kenakan untuk keamanan selangkangan sejak dokter memvonis ia terkena Hernia. Penyakit itu telah bercokol di tubuhnya sekitar setengah tahun belakangan, tepatnya saat ia bersiap untuk mengikuti kontes bodybuilder di Jakarta.
Tawaran menjalani operasi tak ia ambil saat itu. Ia memilih berhenti menjadi binaragawan—entah sementara atau selamanya. Sejak saat itu ia mulai memasukkan lamaran kerja ke berbagai perusahaan: hotel, bank, pembiayaan. Pokoknya macam-macam jenis perusahaan. Semuanya ia serahi surat lamaran. Namun, bak pepatah, Nasibmu tak sebaik permainanmu. permainanmu tak sebaik nasibmu. Hampir semua tempat kerja yang ia tinggali berkas lamaran menolak; sebagian memberikan alasan masuk akal, sisanya hening begitu saja.
Baca juga: Rumah Pemusnah Kenangan – Cerpen Fitri Manalu (Haluan, 21 Oktober 2018)
Kesulitan Nazir memperoleh sekadar panggilan wawancara itulah yang mengawali usaha Bu Pon sang ibu, untuk ikut mencarikan pekerjaan untuknya. Hingga Bu Pon menghubungi salah seorang anak dari adik almarhum ayahnya yang menetap di Australia. Wanita itu telah tinggal dan bekerja di Australia selama 20 tahun. Bahkan sudah jadi orang sana.
***
Lelah membuat Bu Pon merebahkan badan di bangku depan TV di rumah itu—membelakangi ruang tamu tempat suami dan anak sulungnya duduk saling berhadapan. Jarum pendek pada jam dinding bergelayutan di angka delapan, sedang jarum panjangnya menyentuh angka dua belas. Travel akan tiba 15 menit lagi.
Baca juga: Lelaki yang Mengencingi Tong Sampah – Cerpen Ajeng Maharani (Haluan, 14 Oktober 2018)
Tak lama setelah Bu Pon melirik jam, terdengar klakson mobil dari arah luar. Travel datang lebih awal dari dugaan. Bu Pon seketika berdiri dan menyisyaratkan Nazir agar bergegas mengangkat seluruh barang bawaan. Suami Bu Pon juga seketika berdiri, bersiap melepas kepergian Nazir mungkin hanya akan mereka temui satu atau dua tahun lagi. Sementara di luar rumah, supir travel telah menunggu—bersandar di pintu mobil sambil menikmati sebatang rokok pagi yang gurabi nikmatnya.