Rahsia Separuh Abad

Perempuan itu, walau kaget tak kepalang, ternyata tak mudah menyerah. Dia mempertahankan tas miliknya, hingga sepeda motornya terguling dan dia ikut terseret. Ayah, yang juga tak mau kalah, mengerahkan segenap daya. Berpikir tindakannya sudah kepalang basah dan dia harus berhasil. Mumpung belum ada orang menunjukkan batang hidung kendati perempuan itu mulai menjerit-jerit. Dalam kepalanya bergaung ego, lelaki seharusnya lebih kuat dari perempuan. Lelaki harus menang.

Baca juga: Sihir Didgeridoo – Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 14 Oktober 2018)

Tak pernah ayah bayangkan sebelumnya, bahwa dia akan takluk dalam dua detik adu tatap dengan perempuan itu. Bukan mata dengan kilat ketakutan yang dia lihat. Sebuah sorot yang sulit diterjemahkan, namun cukup membuatnya tidur tak tenang. Merasa bersalah seratus kali lipat dari yang dia perkirakan sebelumnya.

Itulah kejahatan pertama dan terakhir yang dilakukan oleh ayah. Berbekal hasil jambretan. Merupakan akumulasi dari penjualan tas, dompet, dan sebuah jam tangan yang semuanya bermerek cukup terkenal. Ayah memulai sebuah usaha kecil-kecilan.

Setelah mempunyai usaha walau dengan cara yang tak biasa, dia berencana membuat perempuan korban kejahatannya jatuh cinta padanya. Barangkali dia berpikir bisa menebus kesalahannya dengan cinta. Lagipula dia memang telah jatuh hati sejak awal.

Baca juga: Pengisah – Cerpen Liven R (Analisa, 07 Oktober 2018)

Begitulah. Berbekal tanda pengenal yang berada dalam dompet yang kemudian disimpan ayah, dia mendekati perempuan yang kelak menjadi ibuku. Ayah mengucap syukur berkali-kali, setelah awalnya sangat was-was, ternyata ibu tidak mengenalinya. Beruntung waktu itu ayah memakai kupluk bertopeng di balik helm, hingga wajahnya terlindungi. Hanya sepasang matanya yang tampak, namun ternyata itu telah bicara banyak.

Di akhir cerita, ayah menyampaikan sebuah permintaan, “Jangan pernah kau ceritakan pada ibumu perihal ini.”

Arsip Cerpen di Indonesia