Rahsia Separuh Abad

Aku mematung di tempat. Bagaimana bisa mereka berdua terperangkap dalam rahasia yang sama tanpa pernah mengungkapkannya selama bertahun-tahun? Apa yang dilihat ibu dalam mata ayah pada waktu dia dijambret dulu? Aku ragu cintalah yang dia lihat di sana, sebagaimana yang dilihat ayah pada sorot mata ibu.

“Maafkan aku. Barangkali caraku memulai segalanya bisa dibilang tidaklah baik. Amat sadar kelakuanku sangat tidak mulia. Itulah cintaku padamu,” kata ayah sungguh-sungguh. “Benar-benar tulus.”

Baca juga: Dibantu Hujan – Cerpen Ken Hanggara (Analisa, 19 Agustus 2018)

Ibu terdiam, tak berkomentar sepotong kata pun. Hening menguasai ruang, hingga beberapa waktu lamanya. Tiba-tiba, seakan teringat sesuatu, ayah bertanya sambil mengerling penasaran. Seulas senyum bermain di bibirnya—senyum pertamanya setelah berbulan-bulan berwajah muram.

“Lalu, apa alasanmu tetap menerimaku?”

Telingaku tegak. Aku memasang pendengaran sebaik mungkin. Pertanyaan ayah barusan adalah pertanyaan yang juga selama ini kupendam. Karena lelaki itu tak pernah memberiku kesempatan untuk menanyakannya pada ibu. Kufokuskan pandangan ke dalam ruangan.

Baca juga: Si Ompung – Cerpen Siti Maulid Dina (Analisa, 05 Agustus 2018)

Ibu masih belum menjawab. Ayah dan aku berada dalam penantian yang sama.

“Karena…,” belum usai ibu menjawab, dia mendadak tersedak. Dalam hitungan detik nafasnya terputus. Perempuan itu telah pergi. Dia membawa alasan itu serta. Sampai kapan pun kami tak akan pernah bisa mendengarnya.

 

Medan, 2017-2018

Arsip Cerpen di Indonesia