Rahsia Separuh Abad

Menyimpan rahasia, pepatah mengibaratkannya bagai menyembunyikan bangkai tikus. Lambat laun bau busuknya akan tercium juga. Ayah memang menyembunyikan sepotong bangkai, namun dia menyumbat hidung ibu sebaik mungkin hingga busuknya tak mampu diendus perempuan itu. Aku tak habis pikir. Mengapa ayah memilih untuk terus menyembunyikan hampir lima puluh tahun daripada mengakui, lalu membersihkan segala kotor dan busuknya.

Mengapa ayah demikian khawatir? Kalau rahasia itu yang membuat perangainya demikian muram akhir-akhir ini. Mengapa dia tidak mengakuinya saja? Pengakuan itu barangkali hanya akan dianggap lelucon oleh anak-anaknya. Barangkali ibu juga telah memaafkan dan melupakannya.

Baca juga: Siapa Pembunuh Mira Marcela – Cerpen T Agus Khaidir (Analisa, 16 September 2018)

Kami akan mengenang mereka sebagai takdir yang berujung manis walau berawal dari kesalahan. Cerita yang kelak bakal jadi legenda keluarga dan diceritakan secara turun-temurun. Kisah itu akan kami jadikan sebagai bahan untuk mengolok-olok pasangan tua itu. Pipi mereka akan memerah layaknya dua remaja yang dimabuk cinta picisan.

Ternyata, bayangan dalam kepalaku tak selalu sepakat dengan kenyataan. Hal itu kutemukan di suatu petang ketika aku menjenguk ibu. Kutahan langkahku tepat di depan pintu yang sedikit membuka demi mendengar percakapan lirih yang berasal dari dalam ruangan.

Baca juga: Ciprut Melihat Badut – Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 09 September 2018)

“Yang menjambretku puluhan tahun silam itu… kau, kan?” tanya ibu dengan suara serak yang lemah. Nada suaranya datar, hingga tak mampu kubaca emosi apa yang ada di dalamnya.

Ayah terkesiap, tak dapat mengelak dan tak ada apapun yang dapat dijadikan pengalih pembicaraan. “Bagaimana kau tahu?”

“Aku tak pernah bisa melupakan matamu. Aku menunggu kau mengakuinya, tapi kau tak pernah jujur.”

Arsip Cerpen di Indonesia