Rahsia Separuh Abad

“Mengapa?” tanyaku penasaran.

“Dia tak perlu tahu,” jawabnya ringkas tanpa benar-benar mengutarakan alasan yang masuk akal.

Memendam rahasia tak ubahnya menyimpan bom waktu. Dia bisa meledak pada waktu yang kadang di luar dugaan, saat tak ada yang siap mengantisipasi. Demikianlah rahasia yang dipendam ayah menemukan waktunya.

Baca juga: Mas Ustadz Suka Sama Mbak Narti – Cerpen S. Satya Darma (Analisa, 30 September 2018)

Saat itu, tepat di hari-H pesta ulang tahun emas pernikahan orang tuaku, ibu jatuh sakit. Mau tak mau kami harus membatalkan pesta, lalu sibuk menjelaskan kepada kerabat dan para undangan, serta menderita kerugian besar. Apa boleh buat, kesehatan ibuku yang sudah merenta jauh lebih penting dan pesta itu tak bisa dipaksakan. Selebrasi yang dirancang mewah dan megah itu harus berlalu begitu saja.

Kupikir pesta itu akan menjadi puncak kebahagian mereka selama hidup. Bayangkan, berapa banyak rumah tangga yang bertahan tak retak selama 50 tahun? Berapa banyak pernikahan yang begitu panjang umur, hingga usia lima dekade tanpa dipisahkan kematian atau dikacaukan orang ketiga?

***

Baca juga: Pion Catur – Cerpen Fachru Rozi (Analisa, 23 September 2018)

Sejak ibu dirawat di rumah sakit, ayah semakin sering menekuk wajah. Meski demikian tak pernah sehari pun dia beranjak dari sisi ibu. Dia bersikeras melakukan semua pekerjaan yang seharusnya kami lakoni. Seperti menyuapinya makan, mengelap tubuhnya dengan air hangat, memijiti kaki atau mengganti pakaiannya.

Ayah mencintai dan menjaga ibu dengan teramat berhati-hati. Memperlakukan perempuan ibu tak ubahnya gelas antik yang rapuh—dan hanya ada satu di dunia. Dulu. perangainya itu membuatku mendambakan kekasih yang punya kemiripan sifat dengannya. Bukankah memang orang-orang berkata, setiap anak perempuan akan menetapkan sang ayah sebagai standar calon pasangannya? Pendapat ini barangkali relatif, namun benar demikian menurutku.

Arsip Cerpen di Indonesia