Ibuku Malaikatku

Kenapa cepat sekali sih, gumamku sambil cepat-cepat berangkat sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh terlebih lagi selalu macet di jalan. Ketika sampai di sekolah, gerbang sudah ditutup. Aku sudah terlambat tujuh menit. Aku kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah orang tuaku bertanya.

“Kenapa pulang?” Tanya Ibu.

“Aku telat, Ma,” jawabku sekenanya sambil berjalan menuju kamar.

Besoknya, aku dipanggil wali kelasku. Ia bertanya kepadaku.

“Kenapa kemarin tidak hadir?”

“Saya telat, Bu.”

“Kenapa telat?”

Baca juga: Cornelia dan Api di Dadanya – Cerpen Seto Permada (Rakyat Sultra, 15 Oktober 2018)

“Saya telat karena tidak dapat mengoptimalkan waktu yang saya miliki.”

Setelah beberapa nasihat yang ia lantunkan, aku mengakhiri pembicaraan dengannya.

“Sudah iya, Bu. Saya mau belajar lagi,” aku berucap sambil tersenyum pergi meninggalkan wali kelasku.

Huh, hari ini ada ulangan harian, aku sebal. Ada ulangan harian sedangkan aku belum belajar. Sebelumnya, pagi tadi, aku sudah dimarahi Ibu karena bangun kesiangaan. Waktu mengerjakan akan segera berakhir. Ada 10 soal yang belum aku selesaikan. Kulihat jam yang kupakai, limabelas menit lagi dan aku harus selesai mengerjakan soal itu. Semua materi yang pernah kupelajari tidak bisa kuingat. Itu semua gara-gara Ibu yang memarahiku tadi pagi sehingga konsentrasiku buyar.

“Adi! Adiknya jangan ditinggal sendirian, dong. Adik kamu jatuh kan, jadinya!”

Baca juga: Lelaki Kesepian Bercerita pada Kursi Kusam di Sudut Cafe – Cerpen Dody Wardy Manalu (Rakyat Sultra, 10 Oktober 2018)

Ibu sudah biasa memarahiku. Kalau adikku jatuh, menangis… pasti aku yang disalahkan. Aku tidak suka terlahir sebagai anak kedua yang harus menjaga Widya, adikku yang sangat, sangat, sangat dan sangat nakal.

“Adi!”

Suara Ahmad membuatku tersentak dari lamunan. Ahmad, temanku yang duduk di belakang tempat dudukku itu mengingatkan bahwa waktu mengerjakan tinggal 10 menit lagi. Segera kuselesaikan 10 soal yang belum terjawab.

Tet… tet… tet…

Bel berbunyi, menandakan bahwa aku harus mengumpulkan kertas jawaban dan pulang. Kulakukan apa yang harus kulakukan dan langsung pulang. Di perjalanan pulang, dengan langkah gontai, menuju rumah yang menurutku sangat membosankan itu. Tiba-tiba, ponsel berdering. Aku menjawab panggilan itu.

Arsip Cerpen di Indonesia