Ibuku Malaikatku

“Halo…”

“Halo…Adi, ibu kamu masuk rumah sakit! Tadi kecelakaan sewaktu menjemput adikmu. Lebih baik kamu cepat kemari! Nanti alamat rumah sakitnya saya SMS,” terdengar dari suaranya, penelepon itu Pak Parman, tetangga sebelah rumah.

Mendengar kabar itu aku sedikit khawatir. Tapi, di saat kekhawatiran itu muncul, aku mengingat sikap Ibu padaku dahulu dan itu membuatku semakin membenci Ibu. Aku melanjutkan perjalananku. Beberapa saat kemudian ponselku berdering lagi. Kulihat ada SMS masuk dari Pak Parman, berisi alamat rumah sakit tempat Ibu dirawat. Kumatikan ponsel dan tidak mempedulikan isi SMS itu.

Kenapa aku harus peduli dengan dia. Lebih baik aku konsentrasi untuk ujian minggu depan.

Baca juga: Membaca Jalan Pikiran Ibu – Cerpen Luhur Satya Pambudi (Rakyat Sultra, 01 Oktober 2018)

Aku terus berjalan sambil memikirkan masa depan keluargaku yang berantakan. Tiba-tiba… kulihat ada tiga orang bermuka seram sedang mengikutiku. Dari gerak-geriknya yang mencurigakan, aku beranggapan bahwa mereka bertiga adalah penjahat. Tapi, apa yang mereka mau dari aku? Aku tidak memiliki barang yang berharga. Yang kupunya hanyalah ponsel yang dibelikan ayah delapan tahun yang lalu sedangkan umurku sekarang 15 tahun.

Aku mulai merasa takut. Aku menoleh ke belakang dan kulihat ketiga penjahat itu mengejar. Aku berlari sekencang-kencangnya dan berlari sudah cukup jauh. Aku sudah tidak kuat lagi. Sepertinya jantungku sudah tidak kuat. Jantungku memang bermasalah sejak aku kelas satu SD dan sering kambuh seperti yang kurasakan sekarang. Aku menengok ke belakang. Kulihat mereka bertiga semakin dekat menghampiri. Aku terus berlari. Detak jantungku mulai melemah dan aku langsung jatuh di atas aspal jalan. Melihatku tergeletak, ketiganya pergi menjauh dariku. Aku pingsan tak sadarkan diri.

Baca juga: Dari Balik Jendela – Cerpen Herumawan PA (Rakyat Sultra, 24 September 2018)

“Adi…sudah bangun?”

Tiba-tiba ada seorang laki-laki di samping tempat tidur menyapaku. Aku mengangguk dan melihat sekeliling. Tempat ini bukan kamarku, tentunya bukan rumahku. Tempat ini seperti…

“Hai…Adi? Kamu nggak papa, kan?”

Perempuan bernama Dewi itu menghentikan lamunanku. Ia teman sekolahku.

“Oh, tak apa. Ehmm…ini rumah sakit, ya? Kenapa aku bisa di sini?” Aku melontarkan pertanyaan beruntun pada Dewi.

Arsip Cerpen di Indonesia