Darah Pertama

Kau mencengkeram sabit batumu, menggeleng, meraung, lalu menerjang adikmu yang terkejut. Sabit batumu memerah. Darah pertama terburai. Semua terkesiap. Kau menjelma ular, menghirupnya hingga tandas.

“Ini yang kau ingin, bukan? Yang paling berharga.”

Dan kutuk telah diturunkan. Kau melangkah dari gurun ke gurun, dari laut ke laut, dari rambut yang menghitam, menjelma merah, lalu menjadi uban, semua karena darah pertama telah dialirkan.

Baca juga: Peluit Perdamaian – Cerpen Risda Nur Widia (Tribun Jabar, 30 September 2018)

 

II

“APA kau percaya dengan vampir?” mata bocah laki-laki itu terlihat mengerjap, memandangmu, menunggu jawaban.

“Kenapa kau bertanya demikian?” kau justru balik bertanya.

“Karena aku yakin ayahku jelmaan vampir,” ceritanya. Ini pertemuan ketiga belas kalian. Saat pertama kali berjumpa dengannya, kau menemukan bocah ini menangis sendirian di taman, menjelang musim panas dan bunga-bunga satu per satu layu di tangkainya. Kau duduk di sampingnya. Dia tak menoleh, tak merasa terganggu atau juga takut. Dia menuntaskan tangis. Saat tangisnya reda, kau mengangsurkan sebuah es krim untuknya. Dia lekat memandangmu.

Baca juga: Ketua Klub Gosip – Cerpen Yetti A.KA (Tribun Jabar, 02 September 2018)

“Selama sepuluh tahun terakhir, setiap kali sedih, aku pasti makan es krim,” ujarmu, seolah paham arti tatapan bocah laki-laki itu. “Setiap kali aku menggigit es krim itu, setiap kali juga kesedihan meleleh di mulutku.”

Dia mengambilnya, membuka bungkus dan mengunyahnya perlahan.

“Kenapa kau menangis?” dia tidak menjawabmu. Di pertemuan pertama itu, kau tak dapat memintanya bercerita sepatah kata pun. Namun sejak hari itu, setidaknya beberapa hari sekali, kau menemukan dia menangis di bangku taman yang sama dan kau terus mengulang adegan yang sama pula.

Arsip Cerpen di Indonesia