“Kenapa kau yakin ayahmu seorang vampir?”
Matanya mengerjap. “Karena ayahku suka sekali membuat darah ibuku menetes. Dia tidak akan pemah berhenti sebelum ibu meraung, menangis, mencium kakinya dan memohon.”
“Jadi, karena itu kau meyakini ayahmu vampir?”
Dia mengangguk.
Baca juga: Hantu – Cerpen Toni Lesmana (Tribun Jabar, 05 Agustus 2018)
“Kurasa ayahmu hanya lelah,” dia menggeleng. Lalu dia tak mau membuka mulutnya lagi. Dia tiba-tiba berlari, meninggalkanmu yang termangu. Di salah satu cabang pohon pinus yang meranggas, seekor ular tua melingkar, dia menguap, lebar, memamerkan sepasang taring yang tetap saja tajam.
Tiga hari kemudian, kau menemukannya lagi. Kali ini dia tidak menangis. Dia hanya memandang kosong ke depan. Memeluk lutut dan tangannya berdarah. Kau terlihat cemas. Kau pegang pundaknya.
“Kenapa?” kau menggoyang tubuhnya. “Apa yang terjadi?” guncangmu. Air matanya perlahan turun. Tak ada isak. “Di mana yang terluka?” tanyamu. Kau mencoba untuk memeriksa tangannya. Namun gerakanmu terhenti. Dia menggengam erat sebuah pisau panjang yang berlumuran darah. Ular di dahan pinus berbinar, dia menggeliat, menegakkan lehernya yang kaku.
Baca juga: Lelaki di Bukit Temung – Cerpen Tary Lestari (Tribun Jabar, 29 Juli 2018)
Pisau itu menampar ingatanmu. Sebuah sabit batu yang berlumuran noda yang sama. Sebuah beban tak kasat mata yang tiba-tiba terasa bergelayut di pundakmu.
“Aku tak tahan lagi. Aku tak tahan lagi. Kata temanku, vampir hanya akan mati bila ditikam dengan perak. Kutikam dia tepat di dadanya. Aku hanya membunuh vampir yang ingin menghirup darah ibuku.”
Rambutmu yang beruban seketika saga. Air matamu yang bening seketika memerah. Kutuk telah terulang dan kau tenggelam di lautan amis yang menyesakkan dada.