III
DI bangku taman yang lengang, menjelang akhir musim hujan, kau mendengar perlahan percakapan sebuah keluarga yang bahagia. Kau tiba-tiba teringat ayah dan ibumu, juga adik dan saudarimu. Ada perasaan aneh yang tak pernah menjalari dadamu selama ini. Mungkin itu rindu, pikirmu. Ular yang telentang di tengah rumput terbahak, memuntahkan sepotong apel yang membusuk, yang tersangkut di kerongkongannya.
Keluarga bahagia. Kau selalu mengkhayalkan itu. Namun semua sudah usai. Tak ada keluarga bahagia dalam kamus hidupmu.
Ayah dari keluarga itu tersenyum pada istrinya. Dua anak laki-laki yang beranjak remaja terlihat bermain bola kaki. Dua anak perempuan yang berlarian mengejar capung. Udara pagi menghangat. Lalu tiba-tiba sang ayah meniup peliut. Kau tersentak.
Baca juga: Kota Mati dan Pembunuhnya – Cerpen Ken Hanggara (Tribun Jabar, 22 Juli 2018)
Istri dan anak-anaknya menoleh. Seketika mereka berlarian. Berkumpul menyatu. Kau diam menyimak. Keenamnya tergesa membuka tas piknik mereka. Kau menduga di sana pasti tersembunyi kue-kue dan gula-gula yang manis. Namun kau keliru. Mereka memasang rompi. Begitu terampil. Pasti mereka keluarga pramuka, dugamu. Hanya hitungan detik, semua terpasang. Mereka berpelukan. Sang ayah memimpin doa dan memberi instruksi. Kau mengernyit bingung.
Kedua anak laki-laki menaiki sepeda motor. Yang tertinggi memboceng. Ayah, ibu, dan dua saudari menaiki mobil. Mereka bergegas. Terus-menerus melirik jarum jam. Kau seketika berdiri. Dadamu bergemuruh. Kau mencium bau sesuatu. Aroma yang terus menghantui hidungmu selama jutaan tahun. Bau pertama yang mengantarmu menjalani kutukan panjang.
Baca juga: Kuburan Keenam – Cerpen Muna Masyari (Tribun Jabar, 15 Juli 2018)
“Oh, tidak! Tidak! Tidak!” kau berteriak, berlari menerjang mereka.
Ular yang telentang di rerumputan terkekeh geli, dia berguling-guling, bergelung ke sana-kemari. Kau berteriak, terus berteriak, mengejar mereka. Kakimu yang kapalan tak dapat lagi merasakan aspal atau beling yang menancap. Kau ingin membelah tubuhmu menjadi tiga, tapi tak bisa. Dan memang tak ada yang bisa kauperbuat. Darah pertama, darah kedua, darah ketiga, dan darah-darah yang lainnya terus mengalir, menenggelamkan dirimu dalam lautan kutuk tak bertepi.