Upaya Menghapus Kenangan

“Dan mimpimu diakhiri oleh meredupnya tiga bintang tadi, lalu ribuan kunang-kunang datang, terbang di atas kepala kita, bukan?”

“Emm… Apakah itu pertanda bahwa kita akan mampu melewati masalah bila bersama?”

Sekitar pukul 00.00 ia kembali ke rumahnya dengan wajah ceria. Tangan kanannya menjinjing plastik yang berisi makanan.

Baca juga: Membaca Jalan Pikiran Ibu – Cerpen Luhur Satya Pambudi (Rakyat Sultra, 01 Oktober 2018)

“Yuli, aku bawakan makanan kesukaanmu. Makan yuk!” bujuknya. Sebenarnya, di dadanya ada marah saat mendapati istrinya masih tampak asyik menatap layar handphone-nya. Andai bisa memilih, ia lebih suka istrinya tidur saat kembali tadi. Marahnya berusaha ditutupi dengan senyum buatan, senyum yang dipaksakan.

Istrinya turun membawa dua bantal yang diselipkan di ketiaknya. Di lantai, satu bantal diletakkan di hadapannya, sedangkan satunya dekat dengan dengkul istrinya.

Istrinya keluar. Beberapa menit berikutnya ia kembali dengan membawa dua sendok makan dan lima gelas air mineral. Dua bungkus nasi diletakkan di atas bantal oleh istrinya. Ia benar-benar bahagia melihat sikap istrinya. Marahnya yang sempat memuncak, kini mulai mereda. Makan berdua akan menghapus semua kesalahanmu, Yuli, gumamnya.

Baca juga: Dari Balik Jendela – Cerpen Herumawan PA (Rakyat Sultra, 24 September 2018)

Istrinya tersenyum. Dua bungkus nasi dibuka perlahan, dimulai dari yang ada di hadapannya. Setelah bungkus nasi terbuka, istrinya berujar, ”Lihat ini!”. Perempuan itu meludah di atas nasi yang dekat denganya.

Wajah laki-laki itu memerah. Tangannya dikepal dan diayunkan pada pipi sebelah kanan istrinya. Saat tersungkur, ia membekap wajah istrinya dengan bantal. Istrinya meronta di bawah bantal yang semakin lama semakin melemah lalu kehilangan napas.

Arsip Cerpen di Indonesia