Waktu pun melesat sedemikian cepat. Menggeser malam berganti dengan malam berikutnya. Nyaris dua hari Aslam terbujur di dalam liang lahat. Dan ia masih tetap tak beranjak dari tempat. Ia pun mulai gelisah. Kemudian memutuskan keluar karena tak betah.
“Nah, akhirnya keluar juga. Anda yang bernama Aslam, kan?” tegur seseorang dengan suara sengau, yang tengah duduk di atas makamnya.
Aslam tak lekas menjawab pertanyaan lelaki itu. Ia masih sibuk menerka-nerka, siapa sebenarnya lelaki yang baru saja menyapa. Lelaki besar dengan topi rimba sebagai penutup kepala, dan sebuah laptop yang terselip di tangannya.
“Anda, malaikat, ya?!” tanya Aslam penasaran,.
“Oh, bukan. Saya cuma petugas pencatat arwah,” jawab lelaki itu sembari mengetik. “Jadi, setiap arwah yang dimakamkan di sini harus segera didaftar. Agar nantinya bisa dimasukkan ke dalam daftar tunggu,” sambung lelaki itu kemudian.
Aslam pun semakin bingung. Karena hal seperti ini bertolak belakang dengan perkiraannya selama ini. Bahwa setelah mati, malaikat akan datang untuk mewawancarai, kemudian lekas memutuskan tempat tujuan—antara surga atau neraka.
“Oh, tak bisa seperti itu, semua ada prosesnya,” tukas lelaki itu, seakan mengerti apa yang dikeluhkan Aslam, “setiap hari, ada ribuan, bahkan jutaan manusia mati. Tentu malaikat akan kewalahan jika harus mendatangi mereka satu per satu dalam rentang waktu yang sama. Maka, langit pun membuat terobosan dengan menggunakan sistem online,” papar lelaki itu kemudian.
“Sistem online? Bagaimana teknisnya?” tanya Aslam.
“Ya, seperti saat ini. Saya mendata orang yang baru saja mati. Kemudian lekas membuatkan jadwal, perihal kapan malaikat akan datang menghampiri. Sederhana sekali, bukan?”
“Lantas, kapan malaikat akan datang menemui saya?!”