Kematian yang Bahagia

Pencatat arwah itu tak langsung menjawab. Tangannya sibuk mengutak-atik laptop yang sekarang  tergeletak di pahanya. “Oh, sepertinya masih lama. Paling cepat, ya, mungkin sekitar tahun depan. Itu pun, kalau server sedang tidak ada kendala.”

Aslam hanya manggut-manggut menyimak penjelasan lelaki itu. Seakan masih tak percaya, ternyata keruwetan birokrasi juga menjalar di dunia arwah.

“Ya, begitulah. Sebenarnya sama saja dengan dunia manusia. Cuma bedanya, di sini tidak bisa menggunakan jalur belakang, dengan bantuan calo,” lagi dan lagi, lelaki itu seperti mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Aslam.

“Baiklah, saya pamit dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan,” ucap lelaki itu sembari bergegas pergi dengan melayang-layang di udara.

Aslam pun kembali celingukan di atas makamnya. Mengamati keadaan di sekitar yang hanya dipenuhi oleh nisan-nisan kesepian yang ditinggalkan empunya. Dalam benaknya juga mulai terbesit pertanyaan: di mana arwah-arwah yang lain?!.

***

Malam berikutnya masih tetap dengan situasi yang sama. Di mana ada Aslam yang meringkuk di dalam liang lahat menunggu kepastian. Dengan rutinitas yang membuatnya mulai dilanda kebosanan.

Hingga sebuah teriakan, lekas menyadarkannya dari kesepian.

“Halo, permisi. Apa, Anda bisa keluar sebentar?!”

Tanpa basa-basi, Aslam lekas keluar dari dalam makam. Berharap ada arwah yang mengajaknya berkenalan. Dan dugaannya mulai mendekati kenyataan, begitu sesosok lelaki dengan wajah rusak dan tubuh berlumuran darah berdiri di hadapannya. Persis dengan gambaran arwah yang selama ini ia lihat di televisi.

Arsip Cerpen di Indonesia