“Mohon maaf, dan tolong jangan tersinggung. Pasti, Anda arwah yang mati karena kecelakaan?!” tebak Aslam, sembari membuka percakapan.
“Oh, bukan. Dulu saya mati, karena lari…”
“Iya, saya tahu. Lari dan setelah itu ditabrak kendaraan, kan?!”
“Bukan. Bukan. Saya mati, karena lari dari kenangan. Eaaa… Eaaa… Eaaa.”
Aslam pun langsung terdiam.
“Mohon maaf, keceplosan. Nama saya Daruz. Saya di sini sebagai penanggung jawab tempat pemakaman Boulevard. Maaf, baru bisa menemui Anda hari ini. Biasalah, sedang banyak order untuk syuting di televisi.”
“Hah?! Syuting?!”
“Ya, syuting. Kalau Anda pernah nonton sinema religi bertema azab, Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan saya.”
Sejenak, Aslam berusaha menelaah perkataan dari arwah bernama Daruz. Ia pun mulai mengerti mengapa sinema televisi berlatar belakang azab itu judulnya aneh-aneh. Ternyata semuanya berawal dari sini.
“Loh, untuk apa Anda melakukan hal yang tak bermanfaat seperti itu. Bukankah akan lebih baik, bila Anda mulai mempersiapkan diri seandainya malaikat datang. Agar kelak bisa menjawab semua pertanyaan dan lulus masuk surga?!” Aslam mulai berlagak sombong.
“Sudahlah, jangan naif seperti itu. Daripada memikirkan masa depan, lebih baik memikirkan masa sekarang. Ingat, kita tinggal di sini tanpa ada subsidi dari negara. Makanya, tempat pemakaman ini sering sepi. Karena para arwah sibuk menjadi bintang televisi. Lumayanlah, gajinya bisa dipakai membeli sesaji dan membayar sewa makam.”
“Oh, jadi begitu ceritanya. Untungnya, semasa hidup, saya sudah mengurus asuransi untuk menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kematian. Jadi, saya tak perlu repot seperti kalian. Makanya, seharusnya kalian itu belajar investasi!” cerocos Aslam, membanggakan dirinya sendiri.