Hari-hari Tan beranjak remaja di rumah itu bersama Mama diisi dengan kebungkaman. Tak ada suara yang bertanya tentang harinya di sekolah, bagaimana kabarnya, apa sarapan favoritnya, dan apa ia ingin membawa bekal. Mereka menjadi asing satu sama lain.
Di pagi hari, setelah berias untuk kerja, Mama pergi ke meja makan. Ia membuat segelas kopi, mengoles beberapa roti tawar dengan selai kacang untuk dirinya sendiri, lalu buru-buru memakannya. Tan yang sudah memakai seragam putih-biru menyusul ke meja makan dan melakukan hal sama.
Seusai sarapan singkatnya, Mama akan meletakkan beberapa lembar uang di dekat Tan, bertanya ‘segini cukup, kan?’ lalu pergi tanpa mengelus kepala Tan. Beberapa menit kemudian, Tan menyusul. Sebelum berangkat sekolah, ia bersalaman dengan gagang pintu, berpamitan pada rumah kosongnya.
Sepulang sekolah, Tan disambut kembali oleh rumah kosong dan kehampaan akan melingkupinya sepanjang hari. Ia merasa senasib dengan seorang gadis di salah satu dongeng Mama. Mama pernah bercerita tentang seorang gadis berambut panjang yang dikurung seorang penyihir di sebuah menara sangat tinggi selama bertahun-tahun.
Sekarang, ia juga terkurung oleh sepi yang Mama ciptakan. Sepulang kerja, Mama lebih suka pergi dengan temannya hingga larut. Sampai di rumah, Mama lebih memilih mendengarkan suara televisi sembari bermain ponsel. Setelahnya, Mama akan masuk ke kamar tanpa mengucapkan selamat malam pada Tan.
Tak ada yang perlu Mama cemaskan tentang Tan. Sekolahnya berjalan baik, Tan tak pernah terlambat, tak pernah dihukum, tak pernah dapat surat peringatan. Tan bisa mengurus hidupnya sendiri.
Suatu hari, kepala Tan mulai dipenuhi pertanyaan: Apa Mama menangis diam-diam di kamar seperti dirinya? Apa Mama ingin mengatakan sesuatu padanya? Apa Mama merindukannya?.
Lubang itu menjadi harapan lagi bagi Tan. Barangkali dia melihat Mama menangis pilu di kamar, pertanda Mama menyesali semuanya Mama juga hancur seperti dirinya. Tan menurunkan lukisan berwarna hitam dengan sedikit coretan abstrak warna putih yang menutupi lubang itu sejak dua tahun belakangan. Matanya mencari sosok Mama. Tan kembali terkejut! Mama merokok! Di atas ranjang, sembari memainkan smartphone. Saat meniupkan asap-asap itu ke udara, wajah Mama terlihat bahagia. Lepas. Bebas.
Tan berpikir sejenak, kemudian mengecek uang dalam dompetnya.
***