Bulan-bulan berlalu begitu cepat, secepat lenyapnya asap rokok yang Tan tiupkan di halaman belakang rumahnya setiap hari. Secepat hilangnya aroma tembakau sebelum Mama pulang kerja. Tan kini telah memakai seragam putih dipadu abu-abu.
Ada sebuah tempat yang Tan temukan di sekolah baru. Di belakang kantor kepala sekolah. Hebatnya, ada sebuah lubang di tempat itu. Dari situ, Tan bisa mengintip ruang kepala sekolah. Seperti sekarang, Tan bisa melihat seorang siswa laki-laki yang tengah dimarahi Kepala Sekolah.
Ia menjulurkan lidah seraya mengacungkan jari tengahnya saat Kepala Sekolah memunggunginya. Namun, buru-buru kembali ke sikap tegak sempurna dan menunduk ketika dipelototi Kepala Sekolah. Ia lucu. Bibir dan hati Tan tersenyum bersamaan.
Sepulang sekolah, Tan melihat laki-laki itu berjalan santai ke kantin. Melakukan tos dengan teman-teman yang juga mengeluarkan kemeja sekolah mereka. Salah satu siswa mengoper rokok pada laki-laki lucu itu. Tan tersenyum lebar. Mungkin kita akan cocok. Hatinya berbicara sendiri.
“Siapa dia?” tanya Tan pada teman yang duduk di sebelahnya.
Namanya Juan. Siswa dari ‘kelas neraka’, kelas yang membuat para guru dihinggapi migrain sepanjang tahun.
Hari berikutnya, Tan sengaja menciptakan situasi agar Juan melihatnya membawa rokok. Agar ia bisa jadi teman Juan, bisa dekat dengan Juan, atau bahkan, jadi kekasihnya.
Berhasil! Mata Juan tak berhenti menatap Tan yang duduk menyilangkan kakinya di bangku kantin, dengan rokok di pangkuan rok pendeknya. Tan bagaikan magnet untuk Juan. Perokok dan pelanggar peraturan seperti dirinya. Tak butuh waktu lama, mereka pun pacaran.
Di mata Tan, Juan menjadi satu-satunya orang di dunia ini yang menginginkannya. Begitu pula dengan Juan, karena ibunya hanya ingin pria baru yang kaya untuk dijadikan suami, dan ayahnya entah siapa ia tak pernah tahu.
Tempat rahasia yang Tan temukan menjadi tempat spesial untuk mereka. Di sanalah mereka saling bertukar cerita dan asap.
Sore itu, puntung-puntung rokok berceceran di bawah sepatu Tan dan Juan. Wajah mereka berdua kusut dari pagi dan yang mereka lakukan sepulang sekolah hingga sore di tempat itu hanya mengepulkan asap tanpa bersuara.
“Mama mau pindah kerja ke luar kota,” akhirnya Tan bersuara.
Juan masih menatap lurus dan datar, “Nyokap mau kawin lagi.”