Dari Sebuah Lubang

Mereka terdiam lagi. Keheningan di antara mereka akhirnya dirusak oleh suara-suara dari ruang Kepala Sekolah. Ada suara seorang perempuan, entah siapa. Juan dan Tan memutuskan untuk mengintip. Awalnya yang dilihat biasa saja. Lama-lama, Kepala Sekolah dan perempuan itu mendekat, saling mencium. Kemudian, Kepala Sekolah membaringkan perempuan itu di atas meja kerjanya. Mereka setengah telanjang.

Tan terperangah. Dia menoleh, saling tatap dengan Juan. Tapi tatapan Juan bukan tatapan heran. Tatapannya berbeda.

***

Di Ruang Konseling, Mama sedang diberitahu oleh guru bahwa Tan kepergok melakukan yang tidak-tidak dengan Juan. Guru juga membeberkan puntung-puntung rokok yang ada di sana. Mama hanya bilang ‘iya’ saat guru memberi tahu bahwa Tan harus pindah sekolah.

Sesampainya di rumah, Mama menggeret Tan ke ruang tamu. Melemparkan tubuh Tan ke sofa. Tanpa bicara apa-apa, Mama membanting vas kaca, disusul asbak dan taplak meja, ke lantai.

Di hadapan Tan, Mama menendang kursi, melempar apa saja yang bisa dilempar, memecah apa saja yang bisa dipecah. Tangisan dan teriakan Mama terdengar di antara bunyi barang yang pecah. Tan menyaksikan kehancuran ruang tamu karena Mama. Sekaligus menyaksikan satu-satunya kehancuran Mama yang diungkapkan di depannya.

“Siapa yang ngajarin merokok?!” Mama bertanya setengah membentak. Mama menghampiri Tan, meremas bahu Tan, dan mengguncangkannya pelan. Pertanyaan itu diulang berkali-kali. Tan hanya diam, menunduk, tak berani menatap wajah Mama yang kuyup.

“Siapa yang ngajarin kamu…” suara Mama tercekat, seolah ada yang menarik kata-katanya masuk kembali.

“Kenapa kamu melakukannya?” pertanyaan itu akhirnya keluar seiring dengan tangis Mama yang lebih keras. Tubuh Mama melorot perlahan, kepalanya berada di pangkuan Tan.

“Siapa yang ngajarin kamu nakal, Tan? Kamu putri penurut yang Mama punya,” Mama bergumam di pangkuan Tan, di antara tangis yang terus pecah.

Air mata Tan jatuh begitu deras. Mama menginginkanku, Mama menginginkanku… Kalimat itu terus-menerus diucapkan hatinya, membuat tangisnya semakin dalam, hingga rasanya dadanya mau meledak karena terlalu sesak.

Arsip Cerpen di Indonesia