Jatah Air Mata

Saya tidak membalasnya, dan malah nasihatnya membuat saya bergegas bangkit dan bersiap-siap. Saya pun memenuhi perintah ayah.

Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, saya sampai di rumah ayah. Hari sudah agak terang, tetapi udara masih terasa dingin. Lalu, tanpa mengetuk pintu, saya masuk begitu saja. Saya berbuat begitu setelah tahu rumah ayah tidak terkunci. Langkah kaki terus saya bawa menerobos masuk, melewati ruang demi ruang. Kamar ayah paling belakang, bersebelahan dengan dapur. Ketika ia melihat wajah saya, tangan kirinya langsung melambai. Memberi tanda agar saya lekas masuk.

Baca juga: Secangkir Kopi – Cerpen Catherine Lacey (Haluan, 11 November 2018)

Saat kaki melewati pintu kamar, entah kenapa saya merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba hidup di dalam tubuh saya. Saat sudah duduk di samping tubuhnya yang terbaring, sesuatu yang hidup di dalam tubuh saya semakin kuat memberi pengaruh pada tubuh saya. Tapi, tidak tahu, apa sebenarnya yang sedang hidup di dalam tubuh saya itu, dan saya berusaha tidak peduli.

“Kau tidak mengajak anak dan istrimu? Aku sangat rindu pada mereka.”

“Tidak. Aku pikir kau hanya ingin bicara denganku.”

Aneh, ayah menyatakan sangat rindu kepada anak dan istri saya seolah ia tidak pernah melihat mereka bertahun-tahun lamanya. Padahal, baru kemarin ia bertemu dengan mereka di rumah ini, bercengkerama sambil memamah kue-kue. Sungguh, saya tidak bisa menafsir arti kerinduan ayah kali ini. Tetapi, entah kenapa, saya malas untuk mengoreknya panjang lebar.

Baca juga: Kabar dari Australia – Cerpen Oxandro Pratama (Haluan, 04 November 2018)

Ayah diam beberapa saat, tatapan matanya yang kosong terbentur ke langit-langit kamar. Ia seperti sedang memasuki alam lain. Saya sempatkan memperhatikan wajahnya. Wajahnya tidak tampak seperti wajah yang saya lihat kemarin. Sekarang kelihatan agak bersih, bersinar, juga lebih muda dari sebelumnya. Ayah termasuk laki-laki tangguh, dan tak pernah mengeluh, meski hidupnya sudah tidak lagi didampingi ibu. Dulu, selang beberapa hari setelah kepergian ibu, saya pernah iseng mengajaknya ikut tinggal di rumah saya. Tapi ia langsung menolak dengan alasan seperti ini:

Arsip Cerpen di Indonesia