Membingungkan. Tiba-tiba ia ingin pulang kampung. Pulang kampung ke mana? Kampung padat rumah dan penduduk ini adalah satu-satunya kampungnya, tempat kelahirannya. Atau jangan-jangan ia berniat meninggalkan kampung ini dan hidup di kampung istri barunya nanti? Kalau memang begitu, gila benar ayah saya ini. Usia sudah enam puluh lebih masih saja mau menikah lagi.
“Kau ingin pulang kampung? Memang kau mau pulang ke kampung siapa?” tanya saya menelisik.
Baca juga: Tembok Kamar – Cerpen Linda A. Lestari (Haluan, 30 September 2018)
“Nant i kau juga mengerti. Sekarang jawab dulu pertanyaanku, apa kau mau memaafkanku?” ia balik bertanya.
“Aku tidak pernah menganggap kau punya salah kepadaku. Sudah selayaknya kau sebagai ayah memberi nasihat dan berbuat yang terbaik untuk rumah tanggaku meski terkadang caranya kerap membuat aku dan istriku terluka. Tapi aku sudah memaafkanmu meski tanpa diminta. Aku yakin istriku juga begitu. Dia itu perempuan yang baik dan tidak menyimpan dendam. Dia hampir sama dengan ibu. Aku ini laki-laki paling beruntung karena sudah memiliki dia.”
“Syukurlah. Akhirnya aku bisa pulang kampung dengan beban yang sudah terkurangi. Baiklah, aku harus pulang sekarang.”
Baca juga: Bunga Kesunyian yang Tumbuh di Jantungmu – Cerpen Risda Nur Widia (Haluan, 23 September 2018)
Setelah berkata seperti itu, ia memejamkan mata. Lalu, karena merasa khawatir, saya memanggilnya beberapa kali. Tapi ia tidak berkutik, tetap terpejam seperti orang tertidur. Dan, sesaat kemudian, napasnya naik-turun dengan lembut. Saya pun segera mendekapnya, tapi bingung harus melakukan apa. Di dalam hati, saya bertanya-tanya, apakah ayah sedang menghadapi sakaratul maut? Kalau memang begitu, gawat. Saya tidak pengalaman menghadapi hal semacam ini. Maka, yang saya bisa lakukan hanyalah memandu mulutnya agar bisa menyebut Allah. Ia pun mengikuti meski agak tersendat-sendat. Dan, akhirnya napasnya tidak naik-turun lagi. Napasnya telah pergi. Ayah telah pulang kampung.
Tentu saja saya sedih. Tapi, saya tidak bisa menangis. Meski sudah dipaksakan, tetap saja tidak bisa. Entahlah. Mungkin jatah air mata saya telah habis karena dulu sering dipakai untuk meratapi penderitaan dan luka-luka ibu. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, ayah harus menerima kenyataan ini.
Asoka, 2018
Agus Salim, lahir di Sumenep Juli 1980. Buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring, Intishar, 2017.