Saya sebenarnya paling tidak suka basa-basi, dan itu membuat saya merasa bosan dan ingin segera mengakhiri pertemuan. Tapi, demi menghormati dirinya, itu tidak saya lakukan.
“Aku juga merasakan sesuatu yang lain, Gus,” katanya lagi, tak jelas.
“Apa itu?” tanya saya tegas.
“Hmmm….” balasnya, semakin tak jelas.
Baca juga: Lelaki yang Mengencingi Tong Sampah – Cerpen Ajeng Maharani (Haluan, 14 Oktober 2018)
“Kalau itu membuat kau merasa tidak nyaman, lebih baik jangan katakan,” timpal saya tegas, agar ia berhenti bicara, tetapi bukan itu yang terjadi.
“Tidak apa-apa. Aku Cuma terkenang masa lalu, pada dosa-dosaku. Aku teringat pada kekejamanku, dan ibumu memang penyabar dan tangguh. Dia sering aku marahi dan pukuli, tapi dia tetap mencintaiku, tetap mau melanjutkan hidup bersamaku. Sekarang, aku benar-benar merasa bersalah, Gus. Apa mungkin, jika kami bertemu nanti, dia mau memaafkanku?”
Ia menghela napas, dan melanjutkan kembali.
Baca juga: Pete Si Kerdil – Cerpen Carol Moore (Haluan, 07 Oktober 2018)
“Kau tahu, bukan baru kali ini aku terkenang pada masa-masa kekejamanku. Ketika aku merasa kesunyian lebih sunyi dari sebelumnya, aku pasti terkenang akan masa-masa itu. Aku tidak akan malu lagi untuk mengakui kalau aku sering menangisi dosa-dosaku.”
Ia berhenti lagi, kemudian menangis, tapi sebentar kemudian selesai.
“Aku ini memang pengecut, tidak pernah berani mengakui kesalahan di depan ibumu, apalagi memohon ampun padanya. Aku juga tidak berani mengakui kesalahan di depanmu dan istrimu. Kau tahu, Gus, sebentar lagi aku harus pulang kampung. Dan, sebelum pergi, aku mohon maafkanlah segala salahku kepadamu.”