Jatah Air Mata

“Aku bukan anak kecil, Gus. Bukan laki-laki yang tidak bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan perempuan. Aku juga bisa masak, mencuci, dan melakukan tugas rumah lainnya. Aku bisa merawat dan menjaga diri sendiri. Kau tinggal kasih aku uang setiap bulan. Hidup sendiri terasa lebih nikmat buatku. Aku bisa beribadah dengan khusyuk. Sudahlah, jangan berlebihan mencemaskanku.”

Ya, namanya juga iseng menawarkan, jadi saya tidak memaksanya. Lagi pula ia juga tidak suka dipaksa.

“Gus? Kau pasti bertanya-tanya, kenapa aku menyuruhmu datang sepagi ini.”

“Ya, tentu. Sebab, bukan kebiasaanmu menyuruhku datang sepagi ini.”

Baca juga: Yang Ditinggalkan – Cerpen Delvi Yandra (Haluan, 28 Oktober 2018)

“Aku hanya ingin mengatakan kalau aku sangat rindu pada ibumu, Gus. Dia perempuan tangguh yang memiliki kesabaran seluas samudera.”

Saya tiba-tiba tergetar saat ia mengatakan itu. Kata-katanya membuat saya harus teringat pada kekejamannya pada ibu. Di mana waktu itu ia tampak seperti monster yang kerjanya hanya ingin memangsa ibu. Tapi saya tidak perlu mengungkap apa dan bagaimana kekejaman ayah dalam cerita ini. Biar itu menjadi rahasia saya.

“Kalau rindu, kau tinggal nyekar ke tempat ibu bersemayam sekarang. Aku bersedia mengantarmu,” kata saya tegas.

Baca juga: Rumah Pemusnah Kenangan – Cerpen Fitri Manalu (Haluan, 21 Oktober 2018)

“Entahlah, Gus. Rindu ini bukan rindu biasa. Tidak cukup diobati dengan nyekar. Aku ingin bertemu dengan dia.”

Terus terang, saya tidak tahu ke mana arah ucapannya. Mungkin ia sudah bosan hidup sendirian, atau jangan-jangan ia punya maksud lain di balik rasa rindunya pada ibu. Saya pun jadi berpikir, jangan-jangan ia ingin menikah lagi.

“Kalau kau ingin bertemu ibu, kau harus mati dulu,” kata saya lagi, tegas.

“Mmm….” balasnya, tak jelas.

Arsip Cerpen di Indonesia