Malam kering, angin menggasing, bulan di pucuk pering. Kesenyapan dilobangi suara mesin, tak ada harum tembakau, tak ada suara gesekan lembar utasan daun siwalan dari para penganyam tikar. Pintu-pintu tertutup sunyi, jika berderak terbuka, hanya muncul orang yang sudah tua.
“Kum! Aku ingin bercerita kepadamu tentang yang terjadi padaku sore tadi,” mulut Gip, temanku, sedikit didekatkan ke leher, menimbulkan dengus napas, pasti air liurnya sambil bercecer. Dari remang cahaya lampu, ia terlihat bermata suram, seperti menanggung sebuah kesedihan.
Tatapnya yang suram itu sebenarnya terlihat sejak dari tadi sore, ketika ia dituntun keluar dari kandang ini, oleh seorang pedagang sapi yang berkumis tebal dan memakai topi hitam.
“Apa yang ingin kauceritakan, Gip?” tanyaku penasaran.
“Tadi aku dibawa ke sebuah tempat. Mulanya, aku mengira aku akan dipacu. Tapi, ternyata tidak,” Gip menundukkan kepalanya.
“Lantas apa yang terjadi di sana?” mendadak aku kaget.
“Oleh orang itu aku, diperlihatkan kepada orang asing, katanya, aku dan kamu akan dijual kepadanya.”
“Jangan bersedih, Gip. Siapa tahu orang itu juragan sapi karapan. Di sana, nasib kita beda, tak begini, tak selalu di kandang. Kita akan berpacu, Gip,” ungkapku, sedikit menggeser arah kepala mendekati Gip.
“Dia bukan juragan sapi karapan. Di negerinya, dia pengusaha pariwisata, kita akan dikandang di dalam sebuah taman, dan orang-orang akan melihat kita dari luar pagar, tentu setelah sejumlah uang tiket mereka bayar,” penjelasan Gip membuatku bisu.
Anganku jadi mengapung ke mana-mana, menerobos tabir-tabir ganjil, termasuk teringat pada sebuah dialog di suatua hari, perihal rencana penjualan tanah lapangan pacuan karapan. Aku dan Gip, sungguh tenggelam dalam kegalauan malam itu.