“Aku minta harga empat puluh juta untuk dua sapi ini. Itu sangat murah, sebab kata ayah, sapi karapan ini ada yang minta membeli dua ratus juta,” ungkap lelaki itu, masih dengan wajah tertutup, suaranya sangat akrab di telinga.
Kami sangat terkejut, saat melihat lelaki itu membuka sarung penutup di wajahnya. Ternyata dia tuan Uwi, entah kenapa, ia yang dulu pecinta sapi karapan, saat ini malah mencuri sapi karapan ayahnya dan ia tawarkan ke pedagang daging. Mungkin karena ia terlalu liar merantau. Tak sedikit, seorang perantau bertemu “setan” di tanah rantaunya, dan ia akan pulang membawa “setan” itu untuk merusak lingkungannya. Sungguh amunisi kebudayaan itu bermacam-macam.
Aku dan Gip hanya saling tatap. Pedagang sapi menyerahkan sejumlah uang kepada tuan Uwi. Ada gaung lesat kerubung lalat, di bekas ceceran darah. Angin subuh melinting tali rafia pada ujung potongan daging yang digantung. Dan seorang tukang jagal mulai mendekati kami, ia hendak menentukan pilihan; aku atau Gip yang pertama akan ia sembelih.
Gaptim, 04.10.18
A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal antara lain: Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Majalah FEMINA, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Bali Post, basabasi.co, Sinar Harapan, Padang Ekspres, Riau Pos, Banjarmasin Post, Haluan Padang , Minggu Pagi, Suara NTB, Koran Merapi, Radar Surabaya, Majalah Sagang, Majalah Bong-ang, Radar Banyuwangi, Radar Madura Jawa Pos Group, Buletin Jejak dan beberapa media online. Juara II Lomba Cipta Puisi tingkat nasional FAM 2015. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Ia juga Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura.