Beruntung hari ini, tuan Uwi kembali pulang, sebagaimana yang diceritakan Gip tadi. Sudah pasti, ia akan kembali menemui kami dengan beragam cara baru dalam merawat sapi karapan.
“Gip! Aku menunggu tuan Uwi datang ke kandang ini. Rindu belai lembut tangannya. Jika ada tuan Uwi, sebentar lagi kita pasti akan dipacu di lapangan karapan,” ucapku kepada Gip yang matanya mulai disesap rasa ngantuk, ia hanya mengangguk pelan, seiiring di kejauhan, azan subuh berkumandang.
***
Hujan menggincui malam, tempias mengusap cagak, setes-setes pada bulu kami, buat kami bangkit, dan berdiri. Gigil. Gelap mandi hujan. Senyap menikahi dingin. Angin melinting ranting, memulangkan dedaun kering. Petir menyentak, seusai sorot lesat kilat memotret-motret kaca jendela.
Aku dan Gip sebatas memamah sisa rumput di rak makanan kami yang terbuat dari bambu. Sudah berhari-hari kami diliputi cemas, terlebih karena tuan Uwi yang kami tunggu-tunggu, tak sekali pun singgah ke kandang ini, meski sudah hampir sebulan ia ada di sini, sejak kudengar kabar kedatangannya dari Gip.
Hujan kian deras, bagai garis-garis bening, yang mematuk lembut punggung malam, alir air membedaki wajah tanah dan menghanyutkan benda-benda. Tiba-tiba seorang lelaki membuka palang pintu kandang dari luar.
Lelaki basah kuyup yang wajahnya bermasker sarung itu, bergegas cepat, lihai menggerakkan tangan dan jemarinya, turuti lubang cagak rahasia yang tersembunyi di bagian belakang gedek daun pintu, lelaki itu seperti tahu tentang itu semua.
Tak sampai dua menit ia pun berhasil masuk dan membuka semua ikatan tali kami yang kuat. Ingin rasanya aku berontak, tapi bau tubuh lelaki itu seperti pernah kukenal, aku dan Gip diam saja. Lalu dengan tali khusus, ia membawa aku dan Gip keluar kandang, menerobos hujan dan kepungan kelam, berjalan lintasi ladang, bukit, sungai dan jurang.
Hingga tiba di suatu tempat; amis darah, penuh onggokan tulang, penuh pisau tajam, dan beberapa potongan daging bergantung di tali kawat.