Sepasang Sapi Karapan

Gip terlihat lebih sering membuang tatapnya ke celah genting yang memuat seberkas cahaya bulan. Sepasang tanduknya yang berjajar gagah menuding langit, tak sepadan dengan matanya yang kian suram.

“Lalu bagaimana kamu bisa lolos dari incaran lelaki investor itu hingga bisa kembali lagi ke kandang ini?” tanyaku kembali membelah hening.

“Untung ada tuan Uwi, lelaki muda putra bungsu Ki Nulam itu yang tiba-tiba datang ke lokasi, dan dengan segera meraih ujung tali tampar. Aku dibawanya pulang kembali ke kandang ini,” kenang Gip sedih, sedikit menoleh ke arahku, tersirat tatap wajah traumatik, seolah ia akan selalu berhadapan dengan hari-hari sial semacam itu lagi.

Malam likat, diaduk pekat, buat seregu kelelawar, berputar-putar menjilat setundun pisang di sisi kandang. Kuku dingin mencakar, kuku senyap mengakar, bunyi kentongan di kejauhan, menggertak urat, dan moncong jarum mulut nyamuk, mulai usil menusuk-nusuk punggung kami.

“Jadi, Tuan Uwi yang telah menyelamatkanmu?”

“Iya. Tapi mereka mengancam Tuan Uwi dengan berbagai hal. Satu di antaranya, mereka suatu saat akan membunuh Tuan Uwi jika sapi-sapi karapan Ki Nulam, aku dan kamu ini tidak dijual,” mata Gip seperti berembun, kepalanya ia rebahkan ke lututnya yang sedari tadi diselonjorkan.

Sejak aku masih pe’empe’ Tuan Uwi selalu merawat kami dengan penuh kasih. Ia yang rutin memandikan kami dengan air hangat setiap pagi. Memijat-mijat tulang kami di bawah sorot cahaya matahari. Tangan lembutnya, karib berkawan bulu kami, sebab ia mengelap basah bulu kami langsung dengan telapak tangannya, di antara uap air yang diserap cahaya matahari, di sela sesekali kami yang menggeliat manja, lompat-lompat dan pura-pura menyeruduk.

Tangan tuan Uwi telaten memijat bahu kami supaya menggunduk besar, menarik-narik gelambir leher agar jauh menggantung ke bawah, jika demikain adanya, maka postur tubuh kami bakal terlihat gagah dan perkasa.

Arsip Cerpen di Indonesia