Dengan uang yang tidak seberapa, aku pergi ke pelabuhan dan membeli tiket kapal paling murah. Sejak kapal bertolak dari Jawa, kepalaku sudah berdenyut-denyut. Pertanyaan-pertanyaan mulai tumbuh dan memenuhi tempurung kepalaku. Mengapa kau mengkhianatiku, Todha? Bukankah dulu kau yang memintaku untuk lekas menikahimu, hingga keluargaku harus merelakan banyak harta karena belis [4] yang ditentukan ayahmu sungguh tinggi? Apakah semua yang kuberikan belum cukup? Saat itu aku hanya duduk di kursi kapal dengan pandangan kosong dan kepala seperti ingin meledak. Tubuhku seperti terombang-ambing di tengah gelombang lautan. Dan selama tiga hari aku seperti kehilangan diriku sendiri.
Saat aku tiba, kau sedang duduk berdua dengan Nono di depan uma bokulu [5]. Kalian terkejut ketika melihat kedatanganku. Aku memang tidak memberi kabar kepada siapa pun tentang kepulanganku. Sesaat rumah kita telah dikelilingi orang-orang desa. Mereka seperti tengah menyaksikan sebuah upacara adat. Lalu Rato Muana muncul dari balik kerumunan itu. Ia menghampiriku lalu menatap ke kedalaman mataku seperti berusaha menyusuri kesedihan yang menderaku. Aku tiba-tiba merasakan keteduhan memancar dari matanya yang cekung dan membuat bara di dadaku sedikit mendingin. Setelah itu ia merangkul tubuhku sembari membisikkan kata-kata sabar untuk menenangkanku. Ia juga tak henti-hentinya bilang bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan musyawarah. Barangkali ia takut kalau mamarungu [6] memasuki tubuhku kemudian membuatku menarik kabeala [7] dari sarungnya, lalu menetakkannya ke leher kalian berdua. Tidak, aku bukan manusia bengis yang suka menyelesaikan permasalahan dengan mata kabeala. Aku dididik Rato untuk selalu percaya kepada takdir dan setia kepada adat kita. Dan karena aku menghormati adat, maka aku memilih menyelesaikan masalah kita dengan musyawarah dan meminta Rato untuk memimpinnya.
Baca juga: Rambut Api Pamela Paganini – Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 29-30 Desember 2018)
Kita duduk melingkar di rongu uma [8]. Kau tentu mengingatnya. Karena kau dan Nono yang telah menimbulkan masalah, Rato meminta kalian untuk berbicara lebih dulu. Saat itu kau duduk di sisi Nono, menggamit lengannya. Dan apakah kau tahu, Todha, betapa remuknya aku saat itu? Kau yang masih sah menjadi istriku justru bergandeng mesra dengan orang lain. Saat itu aku ingin melolong seperti anjing malam. Namun, saat tangan Rato menyentuh pundakku, semua amarahku mendadak mereda. Lalu kau mulai berkata-kata. Hanya kalimat pendek yang kauucapkan, bahwa kau sudah tidak mencintaiku lagi. Dan saat kau meminta kita berpisah, seketika aku merasa seperti Umbu Amahu, leluhur kita, yang kehilangan istrinya sebab diboyong orang lain. Tapi kau lebih kejam. Apa yang menimpa Umbu Amahu adalah karena istrinya mengira bahwa ia telah mati. Sedangkan aku, aku masih hidup, Todha. Aku masih sering mengirimmu pesan dari Jawa. Tidakkah kau pernah berpikir betapa kejamnya dirimu? Dan saat Rato meminta Nono berbicara, aku hampir tidak mendengar apa yang dikatakannya. Tidak sama sekali. Aku telah tenggelam dalam sebuah pusaran yang mengerikan di tengah lautan. Tentu kau melihatku saat itu. Aku tertunduk dengan muka padam dan berusaha membendung air mata. Adakah yang lebih menyakitkan dari berusaha tidak menangis, sedangkan dadamu meledak-ledak dan air mata menyentak-nyentak untuk ditumpahkan?