Dan peristiwa itu pun terjadi. Saat itu aku sedang mengambil ancang-ancang untuk melemparkan sola kepada seseorang, Todha. Itu sola terakhir di tanganku sebelum seseorang memberikan yang lain kepadaku. Kau masih bersorak-sorai di sana. Aku mendengar lengkingan suaramu menyebut nama Nono. Lalu kulemparkan sola itu dengan kuat. Tombak kayu itu melesat kencang seperti burung elang ke arah kepala sasaranku. Tapi ia berhasil mengelak dengan membungkukkan badannya. Dan sungguh, aku tidak tahu bagaimana Nono dan kudanya dengan kebetulan melintas dan berada di balik orang itu. Solaku yang masih melesat kencang akhirnya mengenai Nono dan menancap di tenggorokannya. Ia kemudian terjatuh, sementara kuda yang ditungganginya melarikan diri. Aku melihat Nono berkelejatan memegangi tenggorokannya. Darahnya membuncah. Kau lalu menghambur dari barisan penonton, berlari sambil memekik menghampiri tubuh Nono yang terkapar. Seketika para Rato menghentikan pasola. Orang-orang kemudian mengerubungi tubuh Nono yang sekarat. Para Rato berusaha menyelamatkan nyawanya dengan membaca mantra-mantra. Namun, tak ada yang bisa mencegah kematian, Todha. Dan akhirnya Nono meregang nyawanya saat itu juga.
Baca juga: Kebun Binatang di Dasar Laut – Cerpen Lamia Putri Damayanti (Koran Tempo, 01-02 Desember 2018)
Kau mengingatnya, bukan, Todha? Jangan tanyakan mengapa dan bagaimana sebuah kayu tumpul bisa mengakibatkan luka semacam itu. Yang perlu kauingat bahwa di dalam pasola ada tangan-tangan leluhur yang bekerja. Apa kaupikir aku tidak berbelasungkawa atas kematian suamimu? Jika kau berpikir demikian, kau salah besar. Saat upacara pemakaman Nono, dengan tanpa sepengetahuanmu, aku datang secara sembunyi-sembunyi. Beberapa kali aku memandangi tubuh Nono bergantian dengan telapak tanganku. Di dalam benakku, aku bertanya-tanya, mengapa takdir leluhur harus bekerja melalui tanganku?
Saat itu aku ketakutan. Aku takut kau berpikir bahwa aku sengaja membunuh Nono dan kau akan membenciku, Todha. Dan ternyata ketakutanku menjadi kenyataan. Kau menyalahkanku atas kematian suamimu itu. Kau menyebutku pembunuh di hadapan orang-orang desa. Tapi orang desa bukan orang bodoh, Todha. Mereka secara turun-temurun telah dididik oleh adat kita yang luhur bahwa semua hal yang terjadi di dalam pasola adalah sebuah takdir. Dan darah seseorang yang mengucur di padang saat pasola, seperti darah suamimu, akan memberikan kesuburan kepada tanah kita ini. Itulah kepercayaan kita, Todha. Lalu, mengapa kau menyalahkanku atas kematian Nono, suamimu? Berhentilah, Todha. Berhentilah menyalahkanku. Kau hanya akan membuat dirimu sendiri terlihat bodoh. Kumohon, berhentilah.