Memoar Sebuah Pasola

Aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepalamu, Todha. Mungkin mamarungu telah bersarang di kepalamu dan membisikkan kata-kata jahat agar kau berselingkuh dariku. Pada akhirnya aku pasrah dan kita berpisah. Aku tidak lagi bisa mempertahankanmu. Saat kesepakatan perceraian telah kita ambil, Rato Muana lalu membicarakan tentang belis. Sejujurnya aku tak ingin menyinggungnya sama sekali, Todha. Karena belis yang kuberikan untuk meminangmu dulu adalah wujud cinta kasihku padamu. Bukankah untuk memiliki sesuatu kau perlu mengorbankan sesuatu pula? Dan perempuan adalah makhluk yang berharga. Ditambah perasaan cintaku kepadamu, maka berapa pun belis yang ditentukan akan kutunaikan-meski pada akhirnya membuatku terlunta-lunta.

Baca juga: Setan Banteng – Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Koran Tempo, 22-23 Desember 2018)

Namun, saat Rato mengatakan bahwa dahulu Umbu Amahu meminta ganti belis dari Teda Gaiporana yang telah merebut istrinya, pikiranku pun berubah. Jangan kau berpikir kalau Rato memihak kepadaku sebab hubungan kekerabatan. Tentang belis itu adalah murni dari diriku sendiri. Aku menyadari alasan mengapa Umbu Amahu meminta ganti belis adalah perihal harga diri. Seorang laki-laki boleh menjadi budak bagi istrinya karena cinta, tapi ia tidak boleh melupakan harga dirinya yang telah ditakdirkan sebagai nakhoda bahtera. Dan aku tidak ingin kehilangan harga diriku setelah kehilanganmu, Todha. Oleh karena itu, aku mengikuti perkataan Rato. Dan kau ingat, tentang belis itu, Nono menyetujuinya. Ya, orang kaya seperti Nono tentu mampu menggantinya. Bahkan, kupikir ia mampu memberikan dua kali lipatnya jika aku menginginkan. Ketika semuanya telah mencapai kesepakatan, di depan Rato Muana, akhirnya kita berpisah. Saat itu juga kau pergi bersama Nono, meninggalkanku dipeluk kesendirian.

Tidak banyak yang kulakukan setelah perceraian kita. Aku masih sibuk merenungi nasib dan bersendiri dengan kesedihanku. Aku hampir tidak keluar dari uma bokulu kecuali pada fajar dan petang untuk melihat cahaya matahari terbit dan tenggelam. Warna kemerah-merahan yang timbul pada saat-saat seperti itu mampu meredam dukaku untuk beberapa saat. Aku juga tidak menghadiri pesta perkawinanmu. Dan memang aku tak ingin menghadirinya. Melihat kalian berimpitan hanya akan membuat luka di dadaku semakin dalam. Pada saat-saat itu, aku hampir lupa dengan berjalannya waktu. Aku tidak mengingat pergantian hari sama sekali.

Arsip Cerpen di Indonesia