Selama sebulan aku seperti pelepah kelapa tua yang dipermainkan angin dan menunggu waktu jatuh. Namun, saat fajar, saat aku duduk dan mendengar ombak berderu tenang di bawah langit yang remang-remang, tiba-tiba orang-orang desa berbondong ke pantai. Ya, mereka akan melaksanakan upacara nyale [9]. Dari keramaian itu, seseorang lalu menghampiriku. Kau bisa menebaknya orang itu, Todha. Benar, ia Rato Muana. Rato menghampiriku dan mengatakan sebuah kalimat bijak, “Semuanya sudah ditakdirkan leluhur. Berdamailah dengan keadaanmu.” Saat itu kesadaranku seketika pulih. Aku mulai merasakan kembali waktu yang merambat pelan. Aku mulai merasakan kehadiran diriku sendiri. Lalu aku ingat, bukankah nyale diciptakan leluhur untuk menghilangkan kedukaan terhadap apa yang terjadi kepada Umbu Amahu? Rato kemudian menawarkan tangannya kepadaku. Aku meraihnya dan bangkit. Dibawanya diriku menuju kerumunan orang-orang desa yang dinaungi sukacita dari leluhur. Di pantai yang airnya menyetubuhi mata kakiku, seorang gadis kecil memberikan wadah nyale kepadaku. Kau tahu, gadis itu cantik dan manis sepertimu, Todha. Aku sempat kembali mengingatmu, tapi dengan segera kuenyahkan bayangan wajahmu dari kepalaku. Aku lalu ikut mencari nyale di bawah riak air laut, merasakan keriangan seperti kanak-kanak. Tiba-tiba aku merasa seperti dilahirkan kembali dari rahim ibuku yang sakral.
Kau benar-benar kerasukan mamarungu, Todha. Diamlah dan dengarkan aku.
Baca juga: Kami Naik Kereta Uap – Cerpen Yetti A. KA (Koran Tempo, 08-09 Desember 2018)
Lalu, tibalah saat kita berkumpul di padang untuk melaksanakan pasola. Kami, para pemain, duduk di atas kuda dengan lima sola [10] di tangan dan mengenakan kapauta [11] seperti kesatria. Kau berdiri di sana, di tepi padang di antara ratusan penonton, meneriakkan nama Nono Malo dengan lantang. Aku melihatmu, Todha. Namun, aku sama sekali tidak mengacuhkanmu. Bagiku, kau telah seperti orang asing, seperti turis-turis yang ada di sampingmu saat itu. Sebelum upacara kebanggaan tanah kita dimulai, Rato telah lebih dulu menasihatiku-karena aku akan berhadapan dengan Nono. “Tidak ada dendam di dalam pasola, atau kau akan mendapat murka dari leluhur,” katanya kepadaku. Lalu pasola dimulai. Bunyi gemerincing lonceng kuda segera menggema di bawah langit yang biru. Kuda-kuda meringik dan kaki mereka berderap. Aku memacu kuda dengan hati-hati dan berusaha membidik lawan sembari mengelak dari sola yang mengarah padaku. Dua kali aku berpapasan dengan Nono dan kami saling melempar sola. Pada pertemuan yang pertama, sola kami lepas dari sasaran. Dan pada yang kedua, sola Nono berhasil mengenai bahuku. Sedangkan, ia berhasil mengelak dari solaku.
Setelah itu aku berusaha menghindar dari Nono. Aku tidak ingin sesuatu timbul dalam diriku dan mengakibatkan dendam di antara kami. Namun, suamimu itu justru selalu mengincarku. Ia beberapa kali melemparkan solanya ke arahku, tapi aku selalu berhasil mengelak. Kau tahu, ia seperti sengaja ingin melukaiku, Todha. Aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Apakah ia ingin melukaiku karena takut kalau suatu saat kau kembali mencintaiku? Cinta selalu berubah-ubah, bukan? Namun, dalam sorot matanya, aku seperti melihat sesuatu yang jahat. Barangkali mamarungu telah bersarang di dalam tubuhnya.