Dewi Sri

“Bagaimana, sudah merata semua?”

“Sudah Pak.”

“Bagian terluar dekat perbatasan?”

“Sudah Pak.”

“Syukurlah, semoga cara ini berhasil.”

“Semoga saja Pak.”

“Matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, mari bapak-bapak kita kembali ke rumah masing-masing. Insya Allah hari ini aman.”

Baca juga: Penjemput Kesedihan – Cerpen Risda Nur Widia (Solo Pos, 22 Juli 2018)

Mereka bergegas pulang ke rumah masing-masing setelah menjalankan tugas. Kantuk terpancar dari mata-mata mereka. Lelah terlihat dari langkah kaki yang sempoyongan. Namun, kelegaan tergambar dari senyum di bibir mereka. Sore ini dirasa aman, warga kembali ke rumah masing-masing.

***

Tolong…. Tolong….. Tolong……!!!!

Tong tong tong tong tong….tong tong tong tong tong…..tong tong tong tong tong….suara kentongan saut-menyaut, berbunyi membelah pagi yang sunyi, warga kian banyak yang berlari menuju asal bunyi.

“Bagaimana kejadiannya?”

Baca juga: Perempuan Pesisir – Cerpen Zainul Muttaqin (Solo Pos, 08 Juli 2018)

“Sama seperti yang kemarin. Sekarang sudah enam warga yang kehilangan.”

“Tak ada yang melihat?”

“Tak ada. Tiba-tiba sudah tak ada.”

“Bagaimana bisa terjadi?”

“Aneh sekali. Bagaimana bisa lenyap tak tersisa.”

Warga yang berkumpul saling bergumam kebingungan. Di kepala setiap orang terbesir keputusasaan. Bencana yang sungguh mengangkangi akal sehat telah menyerang desa “Lumbung Padi”. Satu persatu sawah yang hasilnya siap panen hilang seketika. Hanya menyisakan jerami yang kering tak berisi.

Arsip Cerpen di Indonesia