“Ini terjadi karena kalian sudah lupa.” Terdengar suara dari balik kerumunan. Semua mata memandang ke belakang. Terlihat sosok lelaki tua dengan pakaian serba hitam, sorban hitam melilit di atas kepala, dan tangan memegang tongkat kayu berwarna hitam seolah menopang tubuh yang terlihat renta. Lelaki tua itu adalah Mbah Parmin, si pemangku adat. Dahulu ia bertugas memimpin ritual methil yang dilakukan sebelum panen padi. Ritual methil adalah ritual sebagai simbol rasa syukur kepada sang pencipta. Allah SWT atas berkah yang melimpah. Selain itu, kepercayaan masyarakat Jawa terhadap Dewi Sri yang merupakan Dewi Padi sebagai simbol kemakmuran. Namun, kini ritual tersebut sudah tidak pernah dilakukan. Segala hal dalam pertanian sudah menggunakan peralatan modern. Mulai dari mencangkul, menanam, mengairi sampai menebar pupuk sudah memakai peralatan modern. Hal-hal yang menurut mereka tidak masuk akal, kini sudah mulai ditinggalkan.
“Apa maksud perkataanmu Mbah?” salah satu pemuda menimpali.
“Ini adalah hukuman bagi kalian karena sudah melupakannya.”
“Apa yang kami lupakan? Semua sudah kami lakukan.”
“Kalian sudah melupakan cara merawat alam. Kalian menjajah alam sesuka hati kalian. Kalian lupa bagaimana meminta. Kalian lupa bagaimana berterima kasih.”
Baca juga: Bedak dan Lipstik – Cerpen Davit Kuntoro (Solo Pos, 01 Juli 2018)
“Maksudmu adalah ritual itu Mbah? Sekarang zaman sudah modern, karena alat-alat yang canggih, hasil bumi dapat meningkat. Panen yang dulu hanya sekali dalam setahun kini bisa tiga kali setahun. Mencangkul tanah yang dahulu membutuhkan waktu tiga hari kini bisa selesai dalam waktu setengah hari. Bukankah sudah terbukti Mbah? Alat-alat modern lebih menguntungkan dan lebih rasional dibanding upacara-upacara yang menghabiskan banyak waktu,” kata seorang pemuda yang lain.
“Kalian sudah tidak bisa menghargai alam. Yang kalian lakukan hanyalah memaksa alam dengan alat-alat penyiksa kalian. Kalian menjadi manusia yang kejam terhadap alam, sehingga lupa untuk berterima kasih. Sekarang karena ketamakan kalian, Dewi Sri tak mau lagi datang.”
“Dewi Sri hanyalah mitos, yang diceritakan oleh para orang tua kita dahulu. Dia hanya dongeng yang tidak terbukti kebenarannya. Dia tidak nyata Mbah. Sekarang zaman sudah modern, untuk apa percaya dengan hal-hal tidak masuk akal seperti itu. Yang jelas terbukti kebenarannya adalah alat-alat canggih yang mampu melakukan segala hal dengan mudah. Benarkan bapak-bapak?”
“Benar…. benar… benar…,” semua warga ikut menimpali.
“Kalian boleh tidak percaya, namun tanggung sendiri akibatnya.” Si pemangku adat membalikan badan dan melangkahkan kaki meninggalkan kerumunan. Bersamaan dengan itu kerumunan warga pun membubarkan diri, berpencar ke segala arah bak semut meninggalkan sarangnya.
***