Dewi Sri

Semua mulut berkomat-kamit melafal doa-doa kepada Sang Pencipta. Suasana berubah dengan cepat. Angin bertiup lebih kencang, semua mulut berkomat-kamit lebih keras. Gumpalan-gumpalan awan besar mulai berkumpul menutup langit. Langit tertutup awan seluruhnya. Seberkas cahaya terpancar pada satu titik di tengah persawahan. Dari langit turun sosok wanita yang cantik jelita, berjalan menuruni sorot cahaya. Langkahnya lentik seperti seorang penari. Tangannya yang gesit, dengan balutan selendang hijau meliuk-liuk seperti kepakan sayap angsa di atas danau.

Baca juga: Sepulang dari Penjara – Cerpen Ken Hanggara (Solo Pos, 03 Juni 2018)

Ia menari dengan kaki mengambang di bawah sorotan cahaya, berputar mengelilingi seluruh hamparan persawahan yang luas. Hujan turun seketika. Secara ajaib, batang padi yang kering berwarna coklat tua berubah menjadi hijau. Butir-butir padi bermunculan disetiap batang padi. Di bawah sorot cahaya, di bawah hujan, Dewi Sri menari di udara. Hamparan sawah yang berubah menjadi hijau kekuningan dengan butir padi yang siap panen menari mengikuti. Semua mulut berkomat-kamit lebih keras dengan mata terbelalak meneteskan air mata. *

Arsip Cerpen di Indonesia