Embusan angin selatan terasa dingin menyentuh kulit, pohon yang bergoyang bersorak berisik akibat daun dan ranting yang saling bergesekan tertiup angin. Matahari mulai meninggi di ufuk timur. Sinarnya yang hangat membelai setiap jengkal hamparan sawah dengan daun padi kering yang telah mati. Sejauh mata memandang menampilkan hamparan warna cokelat tua yang sedikit demi sedikit tersiram sinar matahari pagi. Jika dilihat dari angkasa desa “Lumbung Padi” yang dahulu terlihat seperti pulau kecil yang dikelilingi oleh hamparan hijau kekuningan padi yang indah, kini terlihat kecoklatan seperti tanah yang tandus. Di pinggir sawah, di bawah pohon trembesi warga berkumpul. Tidak ada sedikit pun keceriaan terpancar dari raut muka mereka. Tertunduk meratapi kehilangan.
“Mungkin benar kata Mbah Parmin,” kata salah satu warga memecah keheningan.
“Mungkin kita semua sudah terlalu serakah, kita terbuai akan kelimpahan, sehingga menjadikan kita serakah dan egois,” tambahnya.
Keheningan kembali terjadi, semua kepala berpikir, merenung atas segala musibah yang telah terjadi. Ucapan Mbah Parmin kala itu kembali terngiang di kepala setiap orang. Kini muncul di pikiran masing-masing orang, ingatan akan kejayaan masa lampau. Saat petani masih menggunakan cara kuno yang telah diwariskan dari orang tua mereka.
Baca juga: Bunga-bunga Marina – Cerpen Eko Setyawan (Solo Pos, 10 Juni 2018)
“Kalau begitu, mari kita temui Mbah Parmin. Kita adakan kembali ritual methi,” kata pak Kades berdiri merentangkan tangan menghadap warganya.
“Ya benar… benar.. benar,” warga saling bersautan. Meski dalam hati mereka masih meragukan apa yang akan mereka lakukan, namun melihat hamparan sawah yang coklat tua kering, mereka tidak punya pilihan lain. Akhirnya warga dipimpin oleh pak Kades berbondong-bondong mendatangi kediaman Mbah Parmin.
“Assalamualaikum… kulo nuwun Mbah!”
“Waalaikumsalam,” jawab Mbah parmin dari dalam rumah. Sesaat kemudian pintu dibuka. Terlihat sosok Mbah Parmin dengan pakaiannya serba hitam.
“Mbah, ayo kita lakukan lagi ritual methil! Ritual yang sudah menjadi budaya dari leluhur kita,” kata Pak Kades yang disahut oleh teriakan seluruh warga membenarkan.
***
Embusan angin selatan terasa dingin menyentuh kulit, pohon yang bergoyang bersorak berisik akibat daun dan ranting yang saling bergesekan tertiup angin. Langit bewarna biru dengan beberapa gumpalan awan kecil menggantung di segala sisi. Pagi itu semua warga berkumpul, dipimpin Mbah Parmin, duduk bersila di pinggir sawah. Di depan kerumunan tersaji tumpeng nasi yang menggunung, beberapa makanan olahan hasil bumi, sayuran, buah-buahan dan daging ayam utuh. Ritual methil dimulai.