Robin

“Aku malah bertanya-tanya apa alasan anaknya mencuri data yang seupil itu. Apa ia mencuri data itu untuk dibocorkan atau hendak dimusnahkan. Tapi bila dipikir-pikir kalau memang ia memusnahkan data yang juga sekaligus bukti itu, pasti ada yang menyuruh. Dan ini kabar baik bagi pejabat korup. Di televisi koar-koar politisi yang meminta petugas untuk mengusut data itu kian kencang. Tapi bagiku, mereka punya segudang kedok. Tahu memainkan peran.”

“Kau tahu, potensi semacam itu seharusnya tidak kau sia-siakan.”

“Tapi di negeri ini yang kritis lindap. Kalau bukan diterjang amunisi, ya berakhir di bui. Kalau pencuri data itu membocorkan isi data itu, bukankah ini akan menguntungkan kalian untuk mengusut dan menangkap para koruptor itu?”

“Tidak juga.” Seorang laki-laki berambut cepak yang mengenakan kacamata menyerahkan map bertuliskan CLASSIFIED kepada Jess. Jess lincah memainkan lembaran-lembaran itu. Memamah informasi secara tepat. Aroma harum dari pewangi ruangan membuat bulu kudukku meremang. Takut? Aku bahkan tidak tahu alasan untuk takut. Yang menjadi kecemasan terbesarku saat ini adalah ibu itu. Sayang sekali, sebab anaknya, ia terseret-seret ke dalam perkara.

“Bagaimana? Apa aku boleh pergi sekarang?”

Baca juga: Cerita Lama – Cerpen Riyon Fidwar (Serambi Indonesia, 23 Desember 2018)

Jess kemudian bicara kepada dua agen. Mereka langsung keluar. Helaan napasnya yang berat seperti emosi yang terlampau lama mengendap.

“Biar kuceritakan sebuah rahasia,” katanya. “Robin melarikan diri sejak tiga tahun yang lalu. Menurut informan kami ia sempat berada di Amerika dan terus berpindah-pindah sampai jauh ke Eropa.”

“Sebentar! Siapa Robin? Pencuri data itu? barangkali ia merasa dirinya Robin Hood:  mencuri untuk kebaikan. Yah, kalau saja benar, mencuri untuk kebaikan?”

“Mau melawak?”

Petugas yang tadinya memelototi monitor terkekeh. Jess berpaling. Dan mereka terkesiap seakan tidak terjadi apa-apa.

“Kemudian kami tahu ia melakukan operasi plastik. Wajah dan identitasnya berubah. Menurut informanku, ia sudah kembali dan hendak melancarkan rencananya. Dari rekaman di sejumlah tempat, setelah mengalami pencocokan ciri-ciri tubuh, cara bicara, berjalan, kamu adalah salah seorang yang punya kemiripan. Tapi bukan cuma kamu. Ada beberapa nama lagi yang sedang kami usut. Sama sepertimu, mereka akan kami bawa ke sini.”

Arsip Cerpen di Indonesia