Asap menyembul dari mobil yang terbakar meski gerimis hanya satu-dua. Kejar-kejaran antara aparat dengan sekelompok pelaku penembakan masih terjadi. Sebagian dari mereka masih terjebak di area yang tidak jauh dari pusat kota.
Keramaian menyebabkan petugas kesulitan mengevakuasi warga sipil.
“Jess, awas!!!”
Seorang anggota komplotan hendak menabrakkan mobil yang dikendarainya ke arahku.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Kamu sadar kondisi apa tidak? Hei, bagaimana kamu bisa ada di sini?”
“Aku ketinggalan sesuatu.”
Hantaman bertubi-tubi ke arah dinding tempat kami bersembunyi seakan hendak mengoyak seluruh sekat.
“Ada pihak internalmu yang membocorkan rahasia. Aku yakin kamu sudah tahu siapa aku.”
“Tapi, kupikir sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu.”
Selang sejam, kondisi yang memanas di tengah gerimis mulai redam. Menyisakan darah, tubuh-tubuh kosong dan bolong, kendaraan yang hancur, kaca-kaca pecah, fasilitas perkantoran dan taman juga porak-poranda.
Agen yang bekerjasama dengan kepolisian berhasil meringkus sejumlah pelaku penembakan. Sedangkan aku sudah mengamankan pemuda itu ke perumahan di bibir pantai.
“Dimana data itu sekarang?”
Ia melirik ke wajahku. Membaca berapa persen nilai kepercayaan yang bisa diberikan.
“Dari awal aku tidak percaya siapa pun. Kau hanya perlu menunggu.”
Ia melirik jamnya dan menarik napas lega.
“Dua menit.”
“Dua menit?”
“Dunia perpolitikan akan riuh. Barangkali sebuah negara akan kolap. Dan ini akan menjadi kehebohan terbesar tahun ini.”
“Kau tahu efeknya buat negara yang sebesar ini?!”