Robin

Aku berkeringat di ruangan ber-AC. Kalau kukatakan saat itu yang terlihat di wajahnya adalah senyum biasa, tapi aku punya kesan lebih dari itu. Itu adalah senyum yang mengancam.

“Itu saja yang perlu kukatakan saat ini.”

Aku pun keluar. Tapi sesuatu segera mendekap pikiranku. Pikiran itu terus kubawa. Aku was-was sepanjang waktu. Dan waktu sebelumnya juga tak begitu berbeda.

Dua agen yang tadi berbicara dengan Jess bersikap seolah acuh tak acuh. Mereka membuntutiku. Gerimis. Kututupi kepalaku dengan jaket. Aku harus cepat-cepat menyingkir. Apa rencana yang sudah kubuat harus kutata ulang?

Sebelum aku punya sedikit waktu untuk berpikir, sebuah mobil berhenti tak jauh dariku sampai bunyi ban selip terdengar keras. Berondongan peluru langsung memburu begitu pintu dibuka.

***

Untuk sementara hanya ada satu cara: melarikan masalah dan menempatkannya di tempat yang tepat. Hasil akhir hanya bisa diduga-duga.

Baca juga: Tuba – Cerpen Ida Fitri (Serambi Indonesia, 23 September 2018)

Baku tembak yang terjadi saat polisi menggelar razia tempo hari, bukan antara Robin dan teman-teman yang membantunya. Melainkan antara polisi dan pembunuh bayaran yang sedang mengejarnya. Tapi media-media malah melimpahkan kaitan dari masalah itu dengan kasus hilangnya data operasi menumpas koruptor. Empat orang pembunuh bayaran yang berhasil ditangkap itu masih diselidiki. Identitas mereka palsu setelah mengaku sebagai agen yang bekerja untuk pemerintah dan sedang memburu Robin, namun mereka enggan menunjukkan identitas saat itu. Berondongan peluru pun tak terelakkan.

Hasil penyelidikan menyatakan begitu. Tapi hasil penyelidikan itu kemudian enggan dipublikasi. Sejumlah media membebek terhadap perintah atasan untuk tidak menayangkan kabar itu. “Nanti malah menimbulkan prasangka dan arah pengusutannya sudah jelas kemana,” kata pemilik media tersebut yang juga menjabat sebagai orang penting di sebuah partai.

Robin berhasil kabur setelah dibantu temannya. Tiket pesawat sudah diatasi. Meski begitu, pemeriksaan besar-besaran di seluruh kawasan patut diawasi. Bahkan dalam pesawat, muncul wajah-wajah dengan gerak-gerik yang mencurigakan.

Meski kursi pesawat telah dipesan, Robin tidak berada di sana. Orang yang mencurigai kursi kosong itu sering melirik-lirik. Beberapa malah pura-pura ke kamar mandi. Hilir-mudik dengan mata yang melompat. Penyuara kuping yang sesekali disentuh. Bisik-bisik sambil menurunkan sedikit dagu.

Arsip Cerpen di Indonesia