Robin

Di ruangan kargo seorang agen sedang memeriksa setiap barang dan sudut-sudut yang mungkin dijadikan tempat persembunyian.

Beberapa kali pesawat mengalami getaran. Penumpang yang mengalami gejala panik memegang erat pegangan di sampingnya. Penumpang-penumpang yang sudah terbiasa melakukan perjalanan aman-aman saja, pikirnya. Seorang pembunuh bayaran hendak menelepon, seorang pramugari berhidung mancung mengingatkan orang itu untuk tidak menggunakan handphone di dalam pesawat. Lalu orang itu bangkit menuju kamar mandi.

“Sepertinya ia berhasil kabur.”

“Bangsat!” kutuk orang di seberang telepon.

Salah seorang penumpang yang duduk tak jauh dari kursi kosong itu mengirim pesan kepada Robin. “Kau beruntung tidak berada di sini.”

***

Permak wajah yang digunakan Robin berhasil mengecoh penjaga bandara dan orang-orang suruhan yang diam-diam memantau ke sekeliling bandara.

Berpenampilan rapi ala orang kantoran, Robin duduk sendiri menikmati secangkir kopi. Silikon membuat wajahnya panas. Tangannya sesekali menggaruk. Tapi pandangannya menyebar. Seorang pelayan mengantarkan sepiring kentang dan menyelip sepotong kertas.

Suara pemberitahuan berulang-ulang ditujukan operator untuknya. Setelah melirik dan mengantongi kertas itu, Robin menuju lobi pengembalian tiket.

Dengan paspor dan penampilan baru, siapa pun akan menganggap ia bukan orang penting yang layak diperhatikan. Agen pemerintah pun luput, begitu juga dengan pembunuh bayaran. Ketakutan yang tadi menyergap sedikit pupus. Dan dengan langkah ringan, Robin menapaki rencana hingga ke luar negeri. Sambil menunggu momentum. Momentum untuk menelanjangi orang-orang dengan senyum ramah, namun menyimpan petaka sosial.

***

Tiang listrik di sisinya baru saja dihantam peluru. Aku menyuruh dua agenku supaya melindungi pemuda yang baru saja keluar dari gedung itu. Setelah mengenakan rompi dan memberikan arahan singkat, sejumlah agen yang merupakan timku langsung keluar untuk meredam keadaan.

Tampaknya seseorang baru saja membocorkan informasi kepada pihak yang menginginkan data itu.

Arsip Cerpen di Indonesia