Robin

Aku menarik kerah bajunya. Gulungan ombak mendebur. Angin meriuh.

“Kau tahu emosi sebesar apa yang kutanggung karena mengetahui drakula-drakula itu menghisap darah rakyat? Apa kamu paham, apa yang kupertaruhkan di sini?”

“Kau sadar tindakanmu bisa menghancurkan…”

“Shhh! Kehancuran sementara lebih baik daripada berlarat-larat. Aku tidak seideologis Hitler untuk menghancurkan seluruh lalu membangun utuh lebih dari itu. Aku tidak senaif itu. Sudahlah. Nikmati saja bagian akhir. Cincin ini…”

Lelaki itu berhasil menyentuh sesuatu yang sekelebat muncul di pikiranku.

“Kau seharusnya senang. Salah seorang yang kau gadang-gadang untuk kau salahkan ada dalam daftar itu. Orang yang membunuh suamimu.”

“Apa katamu? Bagaimana kau tahu?”

“Dua tahun sembilan bulan tujuh belas hari. Aku punya waktu selama itu untuk berpikir, merancang, mencari tahu dan memprediksi kemungkinan-kemungkinan. Kamu salah satunya. Dan aku sebenarnya masih penasaran, bagaimana kau tahu identitasku?”

“Naluri seorang ibu.”

“Aku tak membantah.”

“Ia tidak mengatakan apa pun tentangmu saat kau di ruangan itu. Ia mengamankanmu. Ia tahu anaknya terlibat masalah besar dan ia menolongmu dengan bersikap seolah kau orang lain.”

Nyanyian Beyonce, Love on Top memecah keadaan. Aku mendapat panggilan bahwa data berisi persekongkolan koruptor terbesar di negeri ini telah tersebar di berbagai laman dan media.

Ia menukas, “Inilah bagian akhirnya.”

 

Mestoe, 23 Desember 2018

Ikhsan Hasbi, kelahiran Meureudue 1991.

Arsip Cerpen di Indonesia