Lamtiur biasanya tidak begitu takut akan ancaman ibunya. Tetapi beda hal kalau ibunya sudah mengutip perintah ketua desa. Percayalah, hukuman ketua desa—di desa adat yang ketat seperti tempat Lamtiur—bukanlah hal membanggakan. Apabila kau berbuat salah, ibumu tidak akan marah lebih dari satu hari. Namun, jika kau melanggar hukum desa, Ketua Desa dan seluruh warga akan marah kepadamu sampai mati.
Mengerikan memang apa yang Patrik alami setelah masuk Hutan Terlarang itu. Tapi, bukankah dia tidak pernah bercerita apa yang terjadi? Ya, tepatnya tidak bisa karena kondisi lidahnya. “Tapi, hei, jangan sebut aku lelaki kalau masuk hutan terlarang saja aku tak berani,” tegas Lamtiur kepada tupai. Makanan tupai sudah habis, tapi tetap saja dia diam.
Baca juga: Lelaki yang Menjelma Sinterklas – Cerpen Agus Salim (Media Indonesia, 23 Desember 2018)
“Apa kau mendukungku?” tanya Lamtiur kepada Tupai.
“Baik, diam berarti iya.”
Tupai seketika berlari. Bukan karena makanannya habis, tapi ibu sudah pulang dari ladang. Lamtiur mencium tangan ibunya yang mulai keriput dan masih kotor dengan tanah. “Masih saja kau melihat hutan itu. Mungkin mengunjungi Patrik di rumah Ketua Desa akan membuatmu sadar tak ada gunanya masuk hutan. Dia sudah mulai bisa keluar rumah setelah ketua desa mengobatinya,” kata ibu sambil berjalan ke dapur.
“Ibu bawa ikan piranha, siapkan tungku, kita siapkan makan malam.”
***
Baca juga: Malaikat yang Menunggu – Cerpen Kristin Fourina (Media Indonesia, 09 Desember 2018)
Luka cakaran pada wajah Patrik sudah mengering, namun bekasnya masih jelas di kedua pipi dan pelipisnya. Sebelah matanya masih biru. Mata itu terlihat seperti garis karena lebam. Lidahnya sudah tidak terlihat. Pandangannya kosong. Hanya menyahut dengan anggukan dan gelengan apabila diajak bicara.
Lamtiur dan warga desa lain hanya bisa melihat Patrik dengan pedih. Ketua Desa berdiri dan bicara. Dia selalu mengulang-ulang kalimatnya, bahwa yang dialami Patrik akibat melanggar hukum desa dengan masuk ke Hutan Terlarang.
“Inilah akibatnya kalau kalian melawan petuah nenek moyang. Kalau tidak ingin berakhir seperti ini, jangan pernah berpikir untuk masuk hutan itu.”
Sayang sekali, ketua desa juga lupa untuk jangan pernah berkata ‘jangan’. Bukannya semakin takut, Lamtiur justru jadi makin bertekad untuk pergi ke Hutan Terlarang.