Dia Pulang dengan Lidah Terpotong

Baca juga: Kesetiaan Adalah Ketabahan Menunggu – Cerpen Erwin Setia (Media Indonesia, 28 Oktober 2018)

Lamtiur bangun di atas ranjang, di suatu ruang yang tidak terasa asing baginya. Ini rumah Ketua Desa. Ia mencoba bangun, tapi kepalanya terasa berat.

“Sudah sadar kau pengacau?” Lamtiur kaget dan mencari asal suara. Ketua Desa ternyata sedang berdiri di belakangnya sambil melihat ke luar jendela. Lamtiur menyahut, tapi tidak bisa. Lidahnya sudah tak ada.

Dengan panik, ia memandang ke sekeliling kamar. Hanya ada Ketua Desa, dipan yang ia tempati, rak buku, meja dengan amplop dan gelas-gelas kotor. Sebentar… Amplop? Ia memicingkan mata. Bukan apa-apa, ia tak asing dengan cap di amplop itu. Lingkaran merah berjumlah tiga. (M-2)

Arsip Cerpen di Indonesia