Dia Pulang dengan Lidah Terpotong

Sore hari, seperti biasa, Lamtiur memandang Hutan Terlarang dari teras rumahnya. “Tolong sampaikan pada Arwah Jahat hutan itu kalau besok aku akan menemui dia, meminta pertanggungjawaban atas apa yang dialami Patrik,” ucap Lamtiur pada curut hutan yang saat itu berkunjung ke rumahnya. Curut hanya diam, sibuk dengan daging ikan piranha yang diberikan Lamtiur.

“Bagaimana? Kau bisa?”

“Baik, diam artinya setuju.”

***

Baca juga: Kisah Si Kembar – Cerpen Yus R Ismail (Media Indonesia, 02 Desember 2018)

Setelah memastikan ibunya sudah jauh dari rumah menuju ke ladang, Lamtiur berangkat menuju Hutan Terlarang. Dia hanya membawa pisau dapur berukuran sedang. Dia berjalan hati-hati, memastikan tidak ada yang melihatnya, terutama Ketua Desa. Lamtiur semakin dekat dengan hutan terlarang saat ada serombongan petani yang melintas. Dia masuk parit dan bersembunyi. Aman.

Setalah dirasa aman, ia bangkit dari parit dan melanjutkan perjalanan. Tidak berselang lama, hanya beberapa langkah lagi dia akan memasuki Hutan Terlarang. Lamtiur sempat berhenti memandang deretan pohan yang rapat dan seperti tidak tertembus cahaya. Antara gairah akan bertualang dan ingatan terhadap ancaman ibu serta ketua desa berkecamuk di benaknya.

Baca juga: Kepergian Bapak – Cerpen Anggi Nugraha (Media Indonesia, 18 November 2018)

Sudah kepalang tanggung, beranjaklah Lamtiur ke Hutan Terlarang. Kakinya memimpin masuk di antara deretan pohon lebat. Udara dingin menyeruak seketika saat dia memasuki hutan. Bulu kuduknya berdiri. Bukan karena Arwah Jahat sedang menyapanya, cahaya matahari memang seakan tidak menembus rimbunnya pohon. Lamtiur makin masuk dan menemukan banyak pohon yang sedang berbuah. Dia memetik dan memakan segala buah yang dia temukan. Tentunya tanpa meminta izin dari Arwah Jahat. Memang dia sengaja agar Arwah Jahat keluar menemuinya.

Ia masuk kian dalam ke Hutan Terlarang dan menemukan sungai yang sangat jernih. Tampak beragam ikan di dalamnya. Lamtiur memutuskan untuk buang air besar di sungai itu agar Arwah Jahat tersinggung. Tapi, tetap saja, Arwah Jahat belum keluar. Setelah cebok dan memakai celana, terdengar suara erangan. Tidak ada di atas pohon. Tidak ada pula di balik pohon. Erangan itu kadang jelas terdengar kadang hanya samar-samar. Semakin diperhatikan, dia semakin yakin bahwa erangan itu berasal dari dalam hutan. “Saatnya pembalasan,” ucap Lamtiur di hati.

Arsip Cerpen di Indonesia